Life Story

Alhamdulillah, posting pertama setelah sah jadi dr.Andina Savitri Nurdayanti. hihihihi. ahh boleh lah yaaa narsis dikit, ga dosa. hehehe.

Tak henti bersyukur diri ini, bisa berada di posisi ini, didoakan orang banyak. Salah satunya supaya jadi dokter yang bermanfaat bagi semua dan barokah (hihihi.. doanya mama ellisma – salah satu geng nero yang selama sekolah dokter ini maen2 bareng saya, hihi), dan doa semoga bisa meraih mimpi kita masing2, amiinn.. Alhamdulillah saya masih diijinkan Allah bermimpi, difasilitasi orang tua, dan diijinkan berada di jalan mimpi ini.

Teringat kisah saat saya koas ilmu penyakit dalam aka interna dahulu. Kisah seorang pasien yang sangat menyentuh hati saya. Seorang wanita muda berusia 31 tahun yang didiagnosis Lupus Nefritis. Lupus atau Systemic Lupus Eritematous (SLE) adalah penyakit autoimun yang menyerang tubuh seseorang. Gampangnya, sel-sel imun yang seharusnya menjaga tubuh dari serangan bakteri, dan membunuh bakteri yang masuk. Tapi pada pasien dengan SLE, sel-sel imun ini malah menghancurkan organ2 tubuh manusia itu sendiri. Terdapat kekacauan dari sel imun dalam mengidentifikasi sel ini sel tubuh sendiri atau sel antigen asing yang harus dimusnahkan. Well, pada pasien SLE, dapat terjadi komplikasi yang lebih jauh, salah satu contohnya adalah lupus nefritis. Lupus Nefritis yaitu komplikasi yang terjadi di ginjal, menyebabkan fungsi ginjal terganggu bahkan rusak. Ginjal tak dapat menghasilkan urin. Hasil metabolisme yang harusnya dikeluarkan diurin gagal diekskresi. Terjadi kerusakan pada sel2 glomerulus, dst dari ginjal.

Well, itulah yang terjadi pada pasien yang aku tangani di bangsal RS. Kala itu, saya masih dokter muda junior di rotasi IPD. Bertugas selama 2 minggu penuh di bangsal. Follow up setiap pagi pada setiap pasienku, bersama 2 orang senior saya yang sungguh baik dan enak diajak kerjasama.

Setiap pagi, saya berkeliling untuk follow up sekitar 12-15 pasien. Setiap pasien saya tanyai keadaan pagi ini, apa saja keluhan yang dirasakan serta anamnesis lainnya. Tak lupa saya melakukan pemeriksaan fisik untuk saya bandingkan dengan pemeriksaan 1 hari yang lalu sesuai yang tertulis di rekam medis. Ketika sampai di bed pasien wanita muda itu, dia banyak bercerita. Dia sudah tidak asing dan bolak balik ngamar di RS. Sakit lupus ini sudah dia derita 5 tahun-an. Awalnya, dia bercerita, merasa sering cepat lelah. Kemudian apabila terkena sinar matahari, akan muncul bintik2 kemerahan di wajahnya, dan badannya mudah panas tinggi, bahkan hingga 40 derajat celcius. Terakhir, muncul bintik2 kemerahan (ptekiae) di seluruh kaki dan tangannya. Sesak nafas juga sering dirasakan. Pasien ini masuk dalam kategori penting. Setiap kali operan dengan dokter muda jaga selalu menyebutkan keadaan pasien ini. Seringkali tengah malam tiba2 demam tinggi. Sampai saya yang ikut merawatnya, meletakkan termometer di atas meja disebelah ranjangnya untuk mempercepat pendeteksian gejala itu.

Pagi itu, diagnosis lupus nefritis belum tegak, masih SLE suspek komplikasi lupus nefritis dd entahlah saya lupa. Dia sering mendapatkan obat-obatan untuk menguras cairan dalam tubuhnya yang tidak mampu dikeluarkan oleh ginjal. Beberapa hari kemudian, hasil biopsi keluar, dan pasien dinyatakan telah mengalami komplikasi pada ginjalnya.

Pagi berikutnya, dia semakin sesak, dan ini tidak membaik. Pemeriksaan serum elektrolit menunjukkan kadar kalium yang tinggi. Pemberian kalsium glukonas, insulin, dan D40 tidak mampu menurunkan kadar kalium dalam darahnya. Maka pasien diindikasikan untuk dilakukan hemodialisis cito (cuci darah yang dilakukan pada keadaan emergensi). Pasien segera dijadwalkan HD hari itu juga. Sore itu, saya pulang kerumah dengan hati tak keruan. Smoga semuanya baik2 saja dan teman saya yang berjaga malam dapat meng”aman”kan situasi.

Follow up pagi harinya, ternyata keadaannya membaik. Badannya sudah berkurang bengkaknya. Nafasnya sudah tidak sesak lagi. Dia merasa enteng dan enakan setelah HD. Alhamdulillahh.. Follow up pagi itu dia bercerita banyak hal. Tentang suaminya yang sangat sayang dan menunggu dengan sabar disebelahnya walaupun dia sakit. Tentang keinginannya untuk segera pulang karena kangen dengan anak satu2nya yang masih balita. Tentang bagaimana kemarin dia sangat sesak dan sekarang dia membaik. Saya lega. Sayangnya saat itu adalah terakhir saya memfollow up dia. Keesokan harinya, saya harus rolling ke bangsal lain untuk memfollow up pasien lain. Perawatan wanita muda itu saya operkan ke teman sesama dokter muda yang giliran tugas di bangsal itu. Informasi sudah lengkap juga tertulis di rekam medis.

Baru sekitar seminggu saya bertugas di bangsal yang baru, saya berjumpa teman saya yang dulu saya beri operan tugas di bangsal lama. Dia menemukan termometer saya dan mengembalikannya. Bahkan saya lupa kalau termometer itu tak ada di tas peralatan medis saya. Saya lupa terakhir meletakkannya dimana.
Saya: “Kamu nemu termometerku dimana?”
Teman saya : “Di meja sebelah ranjang pasien”
S : “Ohh iya ya, makasih ya. Aku lupa punya termometer. Pasien yang mana sih?”
TS : “Pasien SLE yang komplikasi ke ginjal”
S : “Ohh iyaaa ibu ituu.. Gimana sekarang kabarnya? itu dulu kan pasienku pas tugas di bangsal yang sekarang km tempati”
TS : ” Iya, ibu itu sudah meninggal kemarin malam”
S : “Innalillahi wa inna lillahi rojiun.. kenapa? sesak lagi?”
TS : “Iya, sesak dan bengkak lagi, malem2 juga ga mungkin harus segera HD cito”

Ya Allah.. saya berdoa kepadamu, Sembuhkanlah pasien2ku dengan kehendak Mu. Bila memang tidak tertolong, jadikanlah masa sakitnya ini sebagai penghapus dosa2 di dunia sehingga dia dapat meninggal dengan tenang dan ringan timbangan dosa2nya kelak. Amin

-ditulis pada malam yang tenang dan penuh inspirasi :)-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s