Ketulusan Hatiku

*written 20Januari 2016 after morning shift at clinic (bersih2 tumblr part 2)

Jadi, aku mau curhat nih judulnya. pagi tadi aku jaga pagi, di klinik faskes primer di kota yg sudah aku tinggali selama 12 tahun ini (minus setahun internsip di madiun). namanya jaga klinik, pasien banyak tapi santai. rawat jalan semuanya. jarang ada pasien gawat. jadi aku kerjanya santai asoy geboy gt. hehe

Jarum pendek di jam dinding yg ada di tmpt praktekan tiba2 udah nyampe di angka 12 aja. aku gaduh gelisah waktunya dhuhur. akhirnya aku ijin sholat dulu deh ya, pasiennya dipending. baru sampe kamar mandi mau siap2, mb perawat berhambur masuk. dok boleh kembali ke ruangan sebentar ga? ini ada pasien keburu2 minta segera diperiksa, katanya udh nunggu drtd, keburu balik kantor. hmm.. baiklah, one more patient it will be okay. akhirnya aku sgera balik. setelah kuperiksa, ternyata dermatitis atopi, gatel doang. digaruk jg msh kuat. yaudahlah biar ga ribut pasien segera aku resepi dan dia pulang. aku segera menuntaskan kewajibanku sebelum pasien yg lain dtg.

5menit lewat, kewajibaku kepada Allah SWT sdh aku tunaikan. saatnya balik ruangan. aku kasih kode ke mas perawat untuk lanjut pasien berikutnya (kok mas sih, pdhal td mbak ya? haha. skip)

Pasien berikutnya yg masuk adalah bapak dan ibu. beliau masuk bareng, dan memang sama2 bertujuan untuk kontrol. si bapak menyapa dgn hangat, hahaha. ini malah kebalik, bapaknya yg ramah. kemudian persilakan duduk. tetiba bapak ini banyak bercerita, ketika aku sibuk membaca dan memahami tulisan yg menerangkan status pengobatan beliau. awalnya tanya2 tentang diriku, aku jwb sekenanya. kemudian cerita ttg anaknya, cerita rumahnya, cerita kenalannya. setelah aku memahami permasalahan kedua pasienku, akhirnya aku meminta si ibu untuk aku periksa dahulu

Sang ibu terlihat kesulitan naik ke atas bed, aku bantu sedikit. setelah berhasil naik dan siap diperiksa, aku minta ibu membuka kancing baju, tangan ibu itu hanya memaku, tak bergerak, seolah kaku, kemudian ibu itu berkata, “sejak saya di kemo, tangan saya jd kaku dok, tidak bisa digerakkan, jari2 saya juga”. “oiya bu”, jawabku seraya membuka kancing bajunya satu persatu dan mulai memeriksa

Ketika aku sampai di pemeriksaan perut, ibu bercerita,“sy sdh dioperasi ini dok, di RS**”, rs tipe A di kotaku. ya, ibu yg dihadapan saya ini adalah pasien ca mamae. kanker payudara telah mengambil jaringan payudaranya sehingga mengharuskan dilakukannya operasi pengangkatan payudara kanan dan kiri. “trus ini muncul benjolan lagi”, lanjut si ibu. “padahal saya dulu kemo 8x”. “baik bu sudah selesai pemeriksaannya”, ujarku. si Ibu bangun, aku bersiap membantunya mengancingkan baju kembali. si ibu menolaknya, “sudah gapapa dok, biar dikancingkan sama bapaknya”. aku membantu ibunya berdiri. si bapak langsung berdiri dan membantu istrinya mengancingkan baju.

Kemudian ibu tersebut kembali duduk. baru saja kuperhatikan, ternyata ibu itu tremor, kedua tangannya tremor, ringan, tp terlihat. ibu tersebut aku putuskan untuk kurujuk ke spesialis terkait di rs yg mereka tuju

Selama proses pemeriksaan ku kepada si bapak, setelah aku menyelesaikan status pengobatan ibu, kesan yg kudapat adalah ceria. si bapak meneruskan proses interogasinya denganku anyway. hahaa. mulai dr tanya alamat rumah, dsb dsb. kok ya kebetulan sekali rmh kami tidak jauh, akhirnya bapak kembali bercerita seputar rumahnya

Dengan susah payah aku menyela untuk menanyakan keluhan yg bapak rasakan dan status kesehatannya. ternyata bapak tersebut hanya berniat kontrol dan juga ke spesialis terkait. beliau menderita kencing manis dan hipertensi. bahkan si bapak sampai pada pertanyaan, dokter orang mana. hahaha. aku jawab sekenanya, saya lahir surabaya pak, besar di malang. Kemudian bapak ikut bercerita, “lho dok saya juga Surabaya dok, tapi saya mulai SR (istilah sd jaman belanda dulu), smp, sma, sekolah …. (aku lupa) di Malang. trus ketemu ibu di Malang, eh kecantol orang Malang”, cerita si bapak penuh semangat. “Whaaa trnyata bapak kecantol ibu yg org Malang yaaa”, candaku. “iya”, jawab si bapak

Setelah aku selesaikan berkas2, aku beri penjelasan kepada mereka berdua ttg rencanaku terhadap proses pengobatan mereka. setelah bapak dan ibu itu paham, mereka pun pamit. “Terimakasih banyak dok”, “sama2 pak, bu, hati2 ya”, jwbku. mereka keluar dari ruangan. si bapak menunggu ibu untuk jalan duluan dan membantunya serta membawakan tas si ibu. tak kutangkap adanya sebersit keluhan ataupun ketidaksabaran ataupun kesedihan. bapak tersebut sangat ceria dan gemar bercerita. akupun tak sempat memandang dengan empati pada si ibu. aku tahu, tak mudah untuk pergi berobat di Indonesia. mungkin mereka sdh antri mulai pagi, mungkin mereka perlu berpegangan tangan spaya bisa berjalan dgn baik, mungkin mereka sudah menunggu dan duduk terlalu lama. tapi mereka tidak mengeluh. Mereka, yang usianya sdh lebih tua dr ayah ibuku, mngkn sdkt lbh muda dari eyangku, tidak mengeluh. Mereka berdua tidak mengeluh atas takdir yang mereka terima. dan mereka dengan sabar melewati proses yang harus dilalui.

Ya Allah ya Rob, pertemukanlah aku dgn manusia2 hebat, yang telah Engkau beri kekuatan dalam dirinya, Engkau beri kesabaran, pertemukanku dengan keajaiban2mu, Ya Allah, supaya aku termasuk dalam orang2 yang pandai bersyukur, amin 😊

unnamed (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s