Confusion – brainstorming

images (8)

*written once upon a day, in a bright and sunny Saturday morning – bersih2 tumblr part 3

Yuk. Jd pagi ini ceritanya saya udh sampe rs jam 6 pagi, wkwk. Pdhal poli tht dan konsulen tht baru datang jam 8. Ahahaha. Guess what? Sy nemenin temen visit pasien di bangsal anak. Etapi aku ga guna jg ya, dia visit, aku duduk manis di ruang perawat, hihi

Pagi ini, entah kenapa, bnyk pikiran2 yg terlintas. Salah satunya yg masih jadi pertanyaan besar bagi saya adalah, why me? Kenapa dulu jaman koas gue harus ujian interna sama konsulen paling killer se rs. Apa salah gue? Biasanya yee.. Konsulen ybs langganan ujian sama dua macam koas: yg pertama patol bangeett.. Pencilakan, ketauan ngilang pas jam stase ato jaga, ga bener, attitude jelek. Tipe kedua, adalah tipe koas pinter bingiiittt.. Cerdas, dan paling pinter se angkatan interna saat itu. Nah gue? Boro2 pinter, jaman koas dulu, visit pasien aja kelabakan. Maju responsi juga jawaban gue ga 100% oke bingit yg bikin konsulen manggut2. Tapi klo dibilang patol banget juga ga terima gue. Secara gue klo jaga malam jam 4 sore teng habis operan sdh di ruangan. Kemana2 blg perawatnya. Klo ngantuk bgt jg ketiduran di ruang perawat. I’m not going anywhere!

Sampailah gue jd koas senior. Waktunya sibuk ujiaaannn. Gue sumpah antara ndredek sm ga percaya ujian sm konsulen yg terkenal seantero rs galak dan disiplin sama koas. Ppds aja tnya ke gue. Dek, km ujian sm konsulen A ya? Aku dlm hati jerit2, ampun dok saya juga ga tauuu.. Huhuhu

Daaann pas jaman saya senior, junior saya bermasalah. Attitudenya krg oke. Konsulen ybs ga suka sm junior gue. Alamakk. Akhirnya gue mikir, kayaknya gara2 gue gak bener nih ndidik junior. Yaudah deh, gue pasrah, ujian ayo dah ujian aja. Gue kudu belajar

Saat ujian tibaaa.. Gue 3x ngadep beliau, mulai dr bedsite ke psien langsung, ujian lisan, tulisan, sm dikasi peer. Udh. Anehnya, sebelum ujian pagi itu beliau malah cerita dan kasih nasihat ke gue. Beliau bilang gini ke gue. (Sdh disadur ssuai ingatan penulis). “Bayangkan apabila saudara menjadi dokter di daerah yg sangat membutuhkan saudara. Disana ga ada dokter, tempatnya jauh di pucuk gunung. Saudara satu2nya dokter disana. Bayangkan bila ternyata posisi anda sangat membantu masyarakat disana. Dan ternyata stlh jaman globalisasi adanya internet, saudara mampu menulis pengalaman saudara. Mreka smua yg di tempat lain jadi tau akan keadaan kesehatan di tempat saudara ptt. Dunia jd terbuka matanya”. Gue, dengan jas koas lengan panjang kebanggaan, nametag dokter muda, pikiran udh merapal lab pasien dan teori ujian, seketika berkaca2, dan netes. Sumpah, gue pengen ngrasain itu. Gue pengen ada disana. Merasakan jd ujung tombak kesehatan. Merasakan susah payahnya pasien hanya utk menjangkau puskesmas terdekat kudu menempuh berkilo2 jauhnya. Merasakan hangatnya senyum pasien gue yg akhirnya diijinkan Allah untuk sembuh. Hal yang tidak mampu tergantikan oleh apapun, bagi seorang dokter.

Sekarang, sudah hampir 2tahun kejadian gue ujian akhir interna sama beliau. Alhamdulillah, nilainya oke sih, hehe. Tp satu hal yg bakalan gue inget dari pengalaman ujian gue kali itu serta hikmah yg bisa diambil. Gue ga akan menyerah, untuk mereka diluar sana, yg bersusah payah cari pelayanan kesehatan, untuk ibu2 yg berjuang melahirkan buah hatinya. Untuk ujung tombak puskesmas yg blusukan ke desa2 nun jauh disana untuk memastikan semua anak dapat vaksinasi. Aku gak akan menyerah.

-dokter internship yang lagi duduk manis di suatu pagi yg selow di bangsal anak, RSUD Kota Madiun-

Advertisements

Cerita Cita-citaKu

doctor holding stethoscope

Alhamdulillahirobbillalamiiinn.. tak henti2 aku berucap syukur karena telah berada di posisi ini. Setelah 6 tahun sekolah jadi dokter! Mulai dari preklinik sampe koas. Jaman preklinik, waktu masih cupu2nya, bergulat ikutan bem di fkub, jadinya sibuk riwa riwi, dan SP (semester pendek-red) pun juga sudah dialami. Berdarah2 ujian bersama dokter2 supervisor yang masuk jajaran “triple kill”. Jaga malem di ugd. Bareng temen2 garap referat, lapsus, dan Morning Report. Jaga di puskesmas yg bikin bolak balik ngrujuk pasien di tengah malem pake ambulan nguing2. Fuhh..

Alhamdulillahh.. posisi ini ga bisa aku dpt sendirian. Ada kerjasama dgn teman2 dibelakangnya. Tmn2 yg membantu, mengingatkan, bahkan memarahi juga punya porsi sendiri2. Ada bimbingan supervisor dokter2 spesialis dan ppds dibelakangnya, selama kita jadi dokter muda di RS pendidikan dan jejaring. Dan ada doa orangtua yang menyertai setiap perjalanan kehidupan kita.

Alhamdulillah. Ini bukan akhir dari segalanya. Masih banyak ilmu yg blm aku ketahui. Dan juga masih panjang jalan yang harus dijalani. Ini adalah awal. Awal karrier, awal untuk mandiri, dan awal untuk berlari dan mendorong diri untuk selalu lebih dan lebih lagi.

Bismillah. Bsok yudisium. Alhamdulillaaahhhh besok yudisium dokteerr ;D

No Judgement please

Ini sering banget aku rasain. No judgement please. Kalo peribahasa kerennya sih don’t judge a book by it’s cover.

Image

Memang sih ga salah kalo orang bilang first impression itu penting banget. Tapi ya memang perbuatan kita itu kudu ada dasarnya dan harus ada batas2nya. Yuk cerita contoh simplenya :

” Cerita latar belakang di UGD. Ada OB bedah dateng, aku langsung tanggap nyari handscoen dan segala atribut perang lainnya untuk bersiap ngerjakan AP, hehe. Trus salah seorang “junior”ku gak enak banget bilang gini : “Aduh ribet amat sih pake handsoen segala, manja ih”. Haloooooo???? Lu udah belajar universal precaution? Lu udah ngrasain belum tangan berdarah2 gara2 kudu cepet2an mbuka ampul obat? Aduhh.. ya paham sih saya, dia mmg baru beberapa hari junior bedah, jd ya belum ngarasain ya. Mungkin lebih baik kalo dia mengungkapkannya dalam bentuk kalimat tanya daripada kalimat komentar bgitu, hhe “

Okee.. lanjut cerita kedua :

Kali ini ceritanya lebih kalem, hehe. Maap! Jadi disini aku akan bercerita bahwa agamaku, Islam, itu sungguh meneduhkan dan mendamaikan. Ketika ada semacam quote bahwa kepribadian seseorang dapat dilihat dari sapa saja teman bergaulnya, saya setuju bangettt.. Cuma mungkin saya berada di lingkungan yang tidak bisa saklek kamu bergaul dengan orang yang sepikiran, sehati, dan se aliran denganmu. Kesibukan masing2 yang membuat kamu belum tentu setiap hari bertemu dengan teman-teman favoritmu. Kamu harus bisa berinteraksi dengan banyak kalangan, dalam berbagai kondisi. Saya juga bersyukur memiliki ayah, ibu, eyang yang tidak sepenuhnya mensupport, tapi tanpa mereka sadari keseharian seperti ini membuat saya belajar untuk berprinsip. Bahwa bertemanlah dengan siapa saja, membaurlah. Saya pernah maen dengan teman2 dari macem2 latar belakang, saya makan dengan siapa saja, saya bercerita dengan siapa saja. Memang sangat meneduhkan dan mendamaikan ketika ada waktu luang dan bermain dengan teman2 seperjuangan mulai awal kuliah dulu yang memiliki pikiran yang sama, memiliki idealisme yang sama. Disaat itulah saat semacam kamu ter-charge kembali. Idealismemu ter-upgrade. Tapi saat kesibukan kembali menerpa, tetap harus dijalani dengan ceria dan hati senang. Saya berusaha seoptimal mungkin untuk meresapi setiap proses yang saya jalani, karena pilihannya hanyalah menikmatinya dan tetap hepi hepi, atau kamu akan terus mengutuk ketidaksesuaian ini semua dengan anganmu. Bertemanlah dengan siapa saja kawan, jalin silaturahmi dengan setiap manusia makhluk Allah SWT karena Islam itu Rahmatan lil Alamin. Tapi berilah batasan kawan, ketika menyinggung keyakinan, katakanlah “Bagiku agamaku dan Bagimu agamamu”. Saya senang berada di lingkungan saya sekarang. Saya bersyukur banyak orang-orang baik disekitar saya.

Terakhir, doaku yang paling khusyuk, lancarkan jalan kami menjadi dokter ya Allah, dan dapat segera bermanfaat untuk kesehatan umat dan semesta 🙂

Think positive …

Think positive is like ” when a group of people is really annoying and fussy to you about something you’ve done, they think it’s incorrect and you do it wrong. Just let it be, follow their rule. Maybe you’ve done their job, it’s not yours. So maybe it is because your fate is doing the higher and bigger job with bigger responsibility too. That’s a doctor job, is what i mean. So don’t forget to know your role in a big system before you get into it and start to participate 🙂 “

Doctors in progress 😀