Confusion – brainstorming

images (8)

*written once upon a day, in a bright and sunny Saturday morning – bersih2 tumblr part 3

Yuk. Jd pagi ini ceritanya saya udh sampe rs jam 6 pagi, wkwk. Pdhal poli tht dan konsulen tht baru datang jam 8. Ahahaha. Guess what? Sy nemenin temen visit pasien di bangsal anak. Etapi aku ga guna jg ya, dia visit, aku duduk manis di ruang perawat, hihi

Pagi ini, entah kenapa, bnyk pikiran2 yg terlintas. Salah satunya yg masih jadi pertanyaan besar bagi saya adalah, why me? Kenapa dulu jaman koas gue harus ujian interna sama konsulen paling killer se rs. Apa salah gue? Biasanya yee.. Konsulen ybs langganan ujian sama dua macam koas: yg pertama patol bangeett.. Pencilakan, ketauan ngilang pas jam stase ato jaga, ga bener, attitude jelek. Tipe kedua, adalah tipe koas pinter bingiiittt.. Cerdas, dan paling pinter se angkatan interna saat itu. Nah gue? Boro2 pinter, jaman koas dulu, visit pasien aja kelabakan. Maju responsi juga jawaban gue ga 100% oke bingit yg bikin konsulen manggut2. Tapi klo dibilang patol banget juga ga terima gue. Secara gue klo jaga malam jam 4 sore teng habis operan sdh di ruangan. Kemana2 blg perawatnya. Klo ngantuk bgt jg ketiduran di ruang perawat. I’m not going anywhere!

Sampailah gue jd koas senior. Waktunya sibuk ujiaaannn. Gue sumpah antara ndredek sm ga percaya ujian sm konsulen yg terkenal seantero rs galak dan disiplin sama koas. Ppds aja tnya ke gue. Dek, km ujian sm konsulen A ya? Aku dlm hati jerit2, ampun dok saya juga ga tauuu.. Huhuhu

Daaann pas jaman saya senior, junior saya bermasalah. Attitudenya krg oke. Konsulen ybs ga suka sm junior gue. Alamakk. Akhirnya gue mikir, kayaknya gara2 gue gak bener nih ndidik junior. Yaudah deh, gue pasrah, ujian ayo dah ujian aja. Gue kudu belajar

Saat ujian tibaaa.. Gue 3x ngadep beliau, mulai dr bedsite ke psien langsung, ujian lisan, tulisan, sm dikasi peer. Udh. Anehnya, sebelum ujian pagi itu beliau malah cerita dan kasih nasihat ke gue. Beliau bilang gini ke gue. (Sdh disadur ssuai ingatan penulis). “Bayangkan apabila saudara menjadi dokter di daerah yg sangat membutuhkan saudara. Disana ga ada dokter, tempatnya jauh di pucuk gunung. Saudara satu2nya dokter disana. Bayangkan bila ternyata posisi anda sangat membantu masyarakat disana. Dan ternyata stlh jaman globalisasi adanya internet, saudara mampu menulis pengalaman saudara. Mreka smua yg di tempat lain jadi tau akan keadaan kesehatan di tempat saudara ptt. Dunia jd terbuka matanya”. Gue, dengan jas koas lengan panjang kebanggaan, nametag dokter muda, pikiran udh merapal lab pasien dan teori ujian, seketika berkaca2, dan netes. Sumpah, gue pengen ngrasain itu. Gue pengen ada disana. Merasakan jd ujung tombak kesehatan. Merasakan susah payahnya pasien hanya utk menjangkau puskesmas terdekat kudu menempuh berkilo2 jauhnya. Merasakan hangatnya senyum pasien gue yg akhirnya diijinkan Allah untuk sembuh. Hal yang tidak mampu tergantikan oleh apapun, bagi seorang dokter.

Sekarang, sudah hampir 2tahun kejadian gue ujian akhir interna sama beliau. Alhamdulillah, nilainya oke sih, hehe. Tp satu hal yg bakalan gue inget dari pengalaman ujian gue kali itu serta hikmah yg bisa diambil. Gue ga akan menyerah, untuk mereka diluar sana, yg bersusah payah cari pelayanan kesehatan, untuk ibu2 yg berjuang melahirkan buah hatinya. Untuk ujung tombak puskesmas yg blusukan ke desa2 nun jauh disana untuk memastikan semua anak dapat vaksinasi. Aku gak akan menyerah.

-dokter internship yang lagi duduk manis di suatu pagi yg selow di bangsal anak, RSUD Kota Madiun-

Advertisements

Life Story

Alhamdulillah, posting pertama setelah sah jadi dr.Andina Savitri Nurdayanti. hihihihi. ahh boleh lah yaaa narsis dikit, ga dosa. hehehe.

Tak henti bersyukur diri ini, bisa berada di posisi ini, didoakan orang banyak. Salah satunya supaya jadi dokter yang bermanfaat bagi semua dan barokah (hihihi.. doanya mama ellisma – salah satu geng nero yang selama sekolah dokter ini maen2 bareng saya, hihi), dan doa semoga bisa meraih mimpi kita masing2, amiinn.. Alhamdulillah saya masih diijinkan Allah bermimpi, difasilitasi orang tua, dan diijinkan berada di jalan mimpi ini.

Teringat kisah saat saya koas ilmu penyakit dalam aka interna dahulu. Kisah seorang pasien yang sangat menyentuh hati saya. Seorang wanita muda berusia 31 tahun yang didiagnosis Lupus Nefritis. Lupus atau Systemic Lupus Eritematous (SLE) adalah penyakit autoimun yang menyerang tubuh seseorang. Gampangnya, sel-sel imun yang seharusnya menjaga tubuh dari serangan bakteri, dan membunuh bakteri yang masuk. Tapi pada pasien dengan SLE, sel-sel imun ini malah menghancurkan organ2 tubuh manusia itu sendiri. Terdapat kekacauan dari sel imun dalam mengidentifikasi sel ini sel tubuh sendiri atau sel antigen asing yang harus dimusnahkan. Well, pada pasien SLE, dapat terjadi komplikasi yang lebih jauh, salah satu contohnya adalah lupus nefritis. Lupus Nefritis yaitu komplikasi yang terjadi di ginjal, menyebabkan fungsi ginjal terganggu bahkan rusak. Ginjal tak dapat menghasilkan urin. Hasil metabolisme yang harusnya dikeluarkan diurin gagal diekskresi. Terjadi kerusakan pada sel2 glomerulus, dst dari ginjal.

Well, itulah yang terjadi pada pasien yang aku tangani di bangsal RS. Kala itu, saya masih dokter muda junior di rotasi IPD. Bertugas selama 2 minggu penuh di bangsal. Follow up setiap pagi pada setiap pasienku, bersama 2 orang senior saya yang sungguh baik dan enak diajak kerjasama.

Setiap pagi, saya berkeliling untuk follow up sekitar 12-15 pasien. Setiap pasien saya tanyai keadaan pagi ini, apa saja keluhan yang dirasakan serta anamnesis lainnya. Tak lupa saya melakukan pemeriksaan fisik untuk saya bandingkan dengan pemeriksaan 1 hari yang lalu sesuai yang tertulis di rekam medis. Ketika sampai di bed pasien wanita muda itu, dia banyak bercerita. Dia sudah tidak asing dan bolak balik ngamar di RS. Sakit lupus ini sudah dia derita 5 tahun-an. Awalnya, dia bercerita, merasa sering cepat lelah. Kemudian apabila terkena sinar matahari, akan muncul bintik2 kemerahan di wajahnya, dan badannya mudah panas tinggi, bahkan hingga 40 derajat celcius. Terakhir, muncul bintik2 kemerahan (ptekiae) di seluruh kaki dan tangannya. Sesak nafas juga sering dirasakan. Pasien ini masuk dalam kategori penting. Setiap kali operan dengan dokter muda jaga selalu menyebutkan keadaan pasien ini. Seringkali tengah malam tiba2 demam tinggi. Sampai saya yang ikut merawatnya, meletakkan termometer di atas meja disebelah ranjangnya untuk mempercepat pendeteksian gejala itu.

Pagi itu, diagnosis lupus nefritis belum tegak, masih SLE suspek komplikasi lupus nefritis dd entahlah saya lupa. Dia sering mendapatkan obat-obatan untuk menguras cairan dalam tubuhnya yang tidak mampu dikeluarkan oleh ginjal. Beberapa hari kemudian, hasil biopsi keluar, dan pasien dinyatakan telah mengalami komplikasi pada ginjalnya.

Pagi berikutnya, dia semakin sesak, dan ini tidak membaik. Pemeriksaan serum elektrolit menunjukkan kadar kalium yang tinggi. Pemberian kalsium glukonas, insulin, dan D40 tidak mampu menurunkan kadar kalium dalam darahnya. Maka pasien diindikasikan untuk dilakukan hemodialisis cito (cuci darah yang dilakukan pada keadaan emergensi). Pasien segera dijadwalkan HD hari itu juga. Sore itu, saya pulang kerumah dengan hati tak keruan. Smoga semuanya baik2 saja dan teman saya yang berjaga malam dapat meng”aman”kan situasi.

Follow up pagi harinya, ternyata keadaannya membaik. Badannya sudah berkurang bengkaknya. Nafasnya sudah tidak sesak lagi. Dia merasa enteng dan enakan setelah HD. Alhamdulillahh.. Follow up pagi itu dia bercerita banyak hal. Tentang suaminya yang sangat sayang dan menunggu dengan sabar disebelahnya walaupun dia sakit. Tentang keinginannya untuk segera pulang karena kangen dengan anak satu2nya yang masih balita. Tentang bagaimana kemarin dia sangat sesak dan sekarang dia membaik. Saya lega. Sayangnya saat itu adalah terakhir saya memfollow up dia. Keesokan harinya, saya harus rolling ke bangsal lain untuk memfollow up pasien lain. Perawatan wanita muda itu saya operkan ke teman sesama dokter muda yang giliran tugas di bangsal itu. Informasi sudah lengkap juga tertulis di rekam medis.

Baru sekitar seminggu saya bertugas di bangsal yang baru, saya berjumpa teman saya yang dulu saya beri operan tugas di bangsal lama. Dia menemukan termometer saya dan mengembalikannya. Bahkan saya lupa kalau termometer itu tak ada di tas peralatan medis saya. Saya lupa terakhir meletakkannya dimana.
Saya: “Kamu nemu termometerku dimana?”
Teman saya : “Di meja sebelah ranjang pasien”
S : “Ohh iya ya, makasih ya. Aku lupa punya termometer. Pasien yang mana sih?”
TS : “Pasien SLE yang komplikasi ke ginjal”
S : “Ohh iyaaa ibu ituu.. Gimana sekarang kabarnya? itu dulu kan pasienku pas tugas di bangsal yang sekarang km tempati”
TS : ” Iya, ibu itu sudah meninggal kemarin malam”
S : “Innalillahi wa inna lillahi rojiun.. kenapa? sesak lagi?”
TS : “Iya, sesak dan bengkak lagi, malem2 juga ga mungkin harus segera HD cito”

Ya Allah.. saya berdoa kepadamu, Sembuhkanlah pasien2ku dengan kehendak Mu. Bila memang tidak tertolong, jadikanlah masa sakitnya ini sebagai penghapus dosa2 di dunia sehingga dia dapat meninggal dengan tenang dan ringan timbangan dosa2nya kelak. Amin

-ditulis pada malam yang tenang dan penuh inspirasi :)-

2013, Desember

tumpang

Alhamdulillahirobbil alamiinn..

Ahh.. akhirnya setelah 6 minggu bertugas di puskesmas tumpang selesai juga. Konsep besarnya: akhirnya setelah 18 bulan koas di berbagai departemen, rumah sakit, puskesmas, dan kota, tersisalah satu minggu perjuangan kita, dokter muda fkub angkatan 2008 teman-teman! Happy? yeaaa.. Worry? definitely! hihihi.. biasaa pre graduation syndrome *playing music six degree of separation by the script*

Jadiii.. kali ini saya akan bercerita pengalaman sebagai koas di departemen public health aka ilmu kesehatan masyarakat. Di lab PH ini, kami, ada sekitar 34 koas akan ditempatkan di 7 puskesmas yang ada di kabupaten malang. Disana kami akan berperan sebagai dokter muda yang membantu dokter fungsional di PKM tersebut yang notabene cuma ada 1 orang aja. Di tiap puskesmas itu memiliki Unit Gawat Darurat, Poliklinik, dan pada pkm tertentu memiliki kamar rawat inap. Ketujuh puskesmas yang akan kami tempati adalah PKM Lawang, Singosari, Tumpang, Gondanglegi, Pakisaji, Sumberpucung, dan Dau. Kami menjalani siklus selama 6 minggu di masing2 puskesmas.

Minggu pertama, kita masih leha-leha. Dapat refreshing kuliah PH lagi di kampus. Wihiii.. jadi setelah 16 bulan ngoass di RSSA dan sekitarnya, kami balik ke kampus, balik jadi anak kuliahan 8D *benerin kacamata dulu biar rilek* hihi. Setelah seminggu dapet pembekalan blablabla, mulai dari dinkes, dosen public health dan pembekalan RI dari siklus sebelumnya yang ngoass di pkm ybs (hehe), kita pun terjuunnn ke puskesmas masing2..

Puskesmas itu menyenangkan. Bener2 bisa applikasi ilmu yang udah kita dapet selama 3,5 tahun kuliah kedokteran dan almost 1,5 tahun koas di RS. Macem2 penyakit bakal nemu. Macem2 karakter orang juga bakal ditemui. Mulai dari pasien yang seneng cerita, sampe pasien yang pengen ndang mari ndang uwes dok. Obat apapun yang dikasi, mintaknya bokong kudu disuntik. Hihihihi. Ada2 aja. Well, sometimes placebo treatment is needed.

So far, nyenengin di puskesmas. Mulai dari awal perjalanannya. Menuju ke puskesmas itu ngelewati jalanan yang muat 2 mobil aja pres banget, ketemu mobil pertanian yang biasa ngupas kulit gerabah (hihihi), ngelewati pasar kaget yang diadain di pinggir jalan sampe bikin macet, jaga menggila karena pasien banyak dan jelek2 sampe bikin pusing, ngerujuk dini hari ngelewatin jalanan sawah2 sambil mas sopir ambulannya kebut2an sama ambulan satunya (ceritanya ngrujuk langsung brkt 2 ambulan dan pulangnya malem beut dan sepi beut akhirnya supaya rame mas2 driver ambulan ini ngebut2 sampe bikin kita2 dokter mudanya ngakak2), berpusing2 ria di kamar DM bikin planning intervensi kesehatan di desa, dan hepi2 tralala ngadain senam bareng lansia di desa yang kita intervensi sambil penyuluhan kesehatan juga.

Well.. itu semua sangat menyenangkan, berharga, dan gak bakalan kita lupain. 6 orang Tumpangers berjaya saat 2 bulan di Tumpang sampe awal Desember 2013. Tengkyu so much Puskesmas Tumpang dan seluruh krunya!

1386476309584 >> narsis dulu sama bu kapus 😀

Cerita Koas – IKA?

Well then kalo boleh diabsen yaa.. masa koas saya di lab besar macam bedah dan obgyn sudah saya ceritakan. Berbagai cerita pilu dan seru saya alami. Halah lebay, padahal yg diceritain perihal kebodohan pas MR. Anyway, apa kabar di lab besar yang lain?
Jadiii.. saya udah bedah dan obgyn, yang belum itu IKA (Ilmu Kesehatan Anak) dan IPD (Ilmu Penyakit Dalam). At the moment i write this tumblr, i have passed IKA,. Well, ga ada memori? anything?
Hmm.. IKA ituu.. hmm.. huff.. apa yaa?? hahahaha
Yasudah rasain sendiri lah koas di IKA, aku sampe spechless ga berkata apa2 dan malah baru inget belum nulis cerita di IKA post 1 bulan lewat IKA, hahaha..
Pokoknya, sebagai post chief IKA yang baik, saya doakan seluruhh bayi dan anak indonesia sehat wal afiat dan sudah di-imunisasi semua, hahaha. Hidup Anak Indonesia!Image

Cerita Koas – Edisi Anestesi

Ruang MR, selasa 18Des 2012 jam 10.00

Image

Maakkk.. Kita udah mati kutu nihh nunggu supervisor disini. Mmg gitu sih, anestesi. Lab ke 6 aku selama kurang lebih koas 6 bulan ini di RSSA malang. Padahal aku baru lab besar bedah dan obgyn lohh.. Klo dari tetua2 2007 dan dr pengamatan kita, yg kena lab semacam anestesi dan EM itu koas2 yg udh lama, semacam angkatan 2007 gt. Berhubung 2007 udah selesai koass.. Jadilah RSSA dihuni oleh sebagian besar koas angkatan 2008. Yey! Hidup 2008. ˘ºˇώκ˚ώκώЌώκ˘ºˇ.. Padahal lohh.. Itu berarti kami sedang memasuki krisis koas. Dimana jumlah koas tiap labnya bisa lebih sedikit dari biasanya. Misalnya nih yg paling ekstrim, lab besar dan core dari koas, yap! IPD. Di IPD, junior koas cuma 10ekor! Dari yang siklus koas normal diisi oleh 20an orang. Nah lhoo.. Salah gue? Salah temen2 gue? Hahahaha

Krisis koas ini kemungkinan berlangsung selama desember-juni. Whot? Lama amaaattt.. Iyoo.. Itulah masa dimana kami sdh ditinggal kakak2 2007 yg udah lulus *ihik (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩ ) * dan menunggu kedatangan koas koas baru angkatan 2009 yang baru masuk klinik bulan juni 2013. Oh meeennn.. Trus kita gimana?
Kalo dari curcolan kita2, kakak 2007 pada membesarkan hati kami. Mereka cerita kalo jaman 2005 koas juga pernah smpe krisis koas yg parah banget itu. Mreka masuk junior IPD sebanyak 9 orang! Wohooo.. Padahal setiap jaga malam itu ada 7 ruangan yang harus diisi koas. Tiap ruangan beda2 sih, tapi ruangan kelas pun daya tampungnya 30 pasien *kalo full bed*. Bisa dibayangkan nasib koas koas inii.. Aku sih jadi semacam tempat sampah aja, mendengarkan teman2 terdekat yang kebetulan masuk laboratorium IPD ditengah krisis koas ini. (´._.`)\(‘́⌣’̀ ) sabar ya teman2.. Toh kita semua jg sedang krisis koas di seluruh lab (‾⌣‾)♉ .

Jadi saya sedang berada dimana? Saya lab anestesi! Oh iya td diatas udh bilang ya, haha. Koas anestesi jamanku ini ada 9ekor, hahahaha. Dari yg biasanya 20an org jg. Tp gapapa lah, anestesi kn termasuk lab kecil. Kita siklus disini selama 3minggu. Di anestesi so far dalam 2 hari masukk.. Kita harus datang jam6 untuk MR. Pagii~ Dan setelah MR kita pun menunggu supervisor untuk mengisi materi kuliah ke kita2 para DM. Anestesi itu unik. Ketika di lab lain kita harus mencari supervisor atau mengingatkan sekretarisnya untuk mengingatkn ngisi kuliah, ato bed site teaching, tp di anestesi smuanya ditangani langsung oleh sang supervisor. Ketika para koas kucluk ini lapor ke admin lab, dibilangnya langsung telp beliau aja mbak untuk mengingatkan. Responnya pun luar biasa hangat. So sweet banget deh  (ʃƪ˘˘ﻬ) . Ada yg malah minta DM untuk mengingatkan lagi jam sekian via sms. Bila sedang sibuk pun beliau ga marah, tp blg “mbak saya lagi di OK paviliun untuk blablabla~ nnti telpon lagi jam sekian ya”. Oh meenn subhanallah baiknyaa. Dan mungkin juga hanya di anestesi yang di setiap MR diakhiri dengan membaca doa untuk keselamatan setiap pasien2 kami. Siip! ((y)ˆ⌣’)(y)

#ceritakoass

Cerita Koas – Edisi Bedah dan Obgyn

Fuhh.. Inhaleeee.. Exhaleee..

Sudah lama saya tidak menulis disini. Terakhir post bulan mei lohh.. terlantarkan begitu saja 7 bulan ini, hehehe. Knock knock, anybody home??

Weekend kemaren bener2 the truly weekend. Entahlah saya sudah lupa kapan terakhir kali bisa menikmati weekend seindah kemarin *super lebay*. Bagi seekor koas seperti saya weekend menyenangkan berarti bisa goler-goleran di kasur sepuas hati, nonton kartun smpe abis, bisa ngemil makanan dirumah dan gak ada giliran jaga RS!! 😀 .

Tapi beneran loh, kalo diinget-inget kayaknya 4 bulan terakhir ini kerjaanku dirumah nabung ato melunasi hutang bobo, makan, mandi, kalo lagi mo ujian ya sibuk sendiri belajar di kamar. Sisa waktu saya lainnya untuk stase dan jaga di RS, hehe. Secaraaaa.. saya 4 bulan ini rapelan langsung lab besar bedah dan obgyn (obstetric gynecology atau kandungan –red). Mana lab bedah itu jaga malamnya di UGD dan high care unit. Kalo lagi giliran jaga di UGD dan keadaan UGD rame banget persis pasar malam, alamat koas koas bedah seperti kita ga bakalan sempat tidur, hahaha. Jadi boleh lah yaa hutang tidurnya dibawa kerumahhh.. asal bukan hutang budi ajaaa.. kalo hutang sama budi ya kudu dibayarr.. sepakat?? #OOT

Yak sodara2, kalo suka baca buku2 macam cado2 punya ferdiriva, ato suka follow twitternya @ko_ass pasti ga asing lah ya dengan istilah ini. Dokter muda ato istilah bekennya koass (sok-sok an beken :p) berasal dari kata co-assistant, jadi kita ini adalah asistennya dokter. Kalo di RSSA, mungkin juga sama dengan di RS pendidikan lain, koass itu membangun kerja sama yang harmonis dengan PPDS (dokter umum yang lagi sekolah spesialis). Ceilah istilahnya bekerja sama. Yah kita membantu PPDS lah yaa.. haha. Trus dokter spesialis benerannya ada dimana? Dokter spesialis itu istilahnya adalah supervisor atau konsulen. Bagaimana peran konsulen disini? Jadi sodara-sodara, di tiap departemen di RS ini, setiap pagi akan ada kegiatan yang disebut Morning Report (MR). Saat MR, semuanya berkumpul, mulai koas, ppds dan supervisor. Saat MR inilah ppds atau koas jaga malam sebelumnya melaporkan pasien-pasien apa saja yang dating ke RS kepada konsulen jaga. Dari 2 lab besar yang saya lewati, di keduanya ga ada yang memberikan tugas kepada koas untuk laporan jaga. Laporan disampaikan oleh ppds jaga yang sudah mentereng duduk manis di depan dan siap melahap pertanyaan konsulen. Kalo kayak gitu apa yang koas lakukan?? Koas duduk manis aja dibelakang supervisor liat ppds membacakan laporan jaga. Nah iniii.. sesuatu deh, disinilah kegembelan koas dimulai. Alkisah ruangan MR di bagian bedah itu sangat luas. Ketika anda masuk, wingg~ semilir dingin AC menerpa wajah anda. Meja besar ditempatkan di tengah membentuk oval. Kursi kursi empuk ditempatkan di sekitar meja oval itu. Perhatian! Kursi itu adalah tempat supervisor duduk :D. Trus di bagian depan ada sebuah layar besar dan LCD proyektor menggantung untuk keperluan presentasi laporan jaga. Disekeliling meja dan kursi oval tadi, ditempatkan puluhan kursi lipat untuk tempat duduk ppds dan koas. Ppds duduk di sayap kanan, koas duduk di sayap kiri. Ppds jaga? Duduk di depan lahh~ ngadep supervisor.. ehee 😀 . Nasib koas-koas post jaga itu pasti pilih tempat duduk paling belakang jauh dari jangkauan mata supervisor, jd bisa curi2 tidur sebentar, ehee 😀 . Ada salah satu teman yang cukup apes. Waktu itu dia bener duduknya nyempil di belakang. Ketika tidur cukup nyenyak, eh lha kok temen yang duduk di depannya yang notabene adalah barrier dalam menghalangi pandangan supervisor tiba2 keluar karena harus ijin naik UGD karena giliran jaga. Jadilah si koas tertangkap basah bobo dan si supervisor nyeletuk, “dek koas itu bangunkan temanmu” , ketika si tersangka bangun, supervisor tadi bilang, “Selamat pagi”. Oh meen malu meeennn, wkwkwk. Ada salah satu teman aku yang unik. Dia itu langka, ditemukan satu dari 100juta spesies manusia mungkin.  Ceritanya kita kuliah refreshing sama supervisor dr A. Satu persatu kita rontok, kepala berayun silih berganti, tangan sikut2an saling mengingatkan. Tapi apesnya ada satu teman yang kena,

“Dek kamu ngantuk ya”

“ Iya maaf dok”

“Sudah kamu keluar cuci muka”

“baik dok”

Aman. 30 menit kemudian teman lain lagi ketahuan deh kalo bobo. Hahahahaha. Itu lama2 dr A stress kali ya liat koas jaman sekarang. Bliau berkata,

“Dek bangunkan temanmu”,

“ Maaf dok saya tertidur”,

“Habis ngapain kamu, sini duduk depan sebelah saya”.

Eng ing enggg.. Interogasi berlanjut.

“Kamu habis ngapain semalam”,

“Habis jaga dok”,

“Kamu semalem jaga mana”,

“Engg.. saya jaga siskamling dok”. 

Maaakkk.. ampuuunnnn.. kami ga bisa nahan ketawa lagi. Si koas unik tadi memang baru lewat 2 departemen aja, dan bedah ini adalah lab besar pertamanya. Si supervisor marah

“ kamu ini, niat sekolah dokter atau tidak, malah jaga siskamling, sudah cuci muka sana!”,

“Baik dok”

Cekikikan terdengar di beberapa sudut, hihihihi.

Lain di bedah lain lagi di obgyn. Kalo di obgyn itu koas jaga pasti wanti-wanti. Aduhh MR besok pagi sama supervisor sapa yaa..  Ada beberapa superisor yang sangat “concern” dengan koas. Beliau suka banget crosscheck pasien itu ke koas. Jadi kalau sudah terdengar suara,

“Tadi malam koas jaganya siapaaa??”

Nah sebaiknya si koas bisa menjawab pertanyaan supervisor, kenapa pasien ini diginikan, kenapa digitukan, apakah kalian mendapatkan ini saat pemeriksaan, dstdst. Jadi kita kudu belajar pas jaga, selain mengerjakan pasien dan AP (atas permintaan) dari PPDS. Tak sedikit ppds baik hati dan suka menolong yang menyelamatkan nyawa kami para koas. Sebelum MR, kami ditentir dulu panjang lebarr jadinya amaaannn lewat MR pagi. Atau ada ppds berhati malaikat yang memberikan kode rahasia dan bisikan setan ketika muka si koass jaga pucat pasi dan bingung mau jawab apa, wkwkwkwk. Oalah koass koass.. :))

-cerita diatas sudah direbus, ditiriskan, digoreng dengan minyak panas, dan diberi bumbu penyedap- 😀

Minggu, 9 Des 2012