What are you wish for?

Ya, masa lalu adalah milik kita masing2, dan masa depan adalah milik kita bersama. Tapi tahukah kamu kalau masa lalu itu membentuk karakter dan kepribadian seseorang?

6 tahun aku berjuang untuk mewujudkan cita cita menjadi dokter, walau agak setengah hati, aku akui, karna dahulu aku ingin sekali kembali ke kota kelahiranku, sekolah di Surabaya. Tapi orangtuaku tidak memberi restu. Sekedar mencoba tes di surabaya saja aku dihalangi. Kata mereka sama saja lah. Aku menyerah, terlalu mudah memang. Aku pun patuh. Aku hanya mencoba tes masuk kedokteran di kota tempatku bermukim. Alhamdulillah aku lolos.

Hari2 baru berganti. Aku mulai mempersiapkan semuanya untuk menjadi mahasiswa kedokteran. Gampang bagiku mendapat teman, karna lumayan banyak teman smaku yang lolos fakultas kedokteran sama sepertiku. Kemudian, masa ospek pun datang. Aku yang bermental lemah, jadi gampang menangis. Aku yang sehari2 sering dibantu ibuku, jadi gampang mengeluh. Tapi aku tetap memperjuangkannya. Aku ingat kata kakak2 serta dosen2 di kampusku yang sangat memotivasi, kalo sudah terciprat air, nyemplung aja sekalian. Aku tak mau menyerah, aku harus totalitas

Hari demi hari sebagai mahasiswa kedokteran akhirnya kujalani. Rentetan tugas, modul, kuliah, buku teks, praktikum, dan ujian2 aku lalui. Ujian anatomi yang jadi momok mahasiswa kedokteran dengan bel timer nya yang mengagetkan dan bikin otak blank, ujian histologi yang rumit bin mbulet karna pusing bedain preparatnya, serta ujian skripsi yang harus ditempuh untuk mendapatkan gelar sarjana kedokteran. Selain hal akademik, traumatis masa ospek dengan kakak2 tingkat tak membuatku berkecil hati. Aku malah penasaran. Apa sih maksud mereka dahulu dengan didikan macam itu kepada mahasiswa baru. Aku ingin tahu. Awalnya, aku mencoba berpartisipasi di kepanitiaan kampus, kemudian menjadi staf di organisasi kemahasiswaan kampus, di tahun kedua aku dipercaya merumuskan konsep acara ospek mahasiswa baru, dan tahun ketiga aku menjadi pengurus inti organisasi mahasiswa di fakultasku. Wow. Dan aku lulus sarjana kedokteran tepat waktu, tiga setengah tahun. Alhamdulillah

Aku tidak sendiri. Ada ayah, ibu, yangti dirumah. Keluarga yang selalu mensupportku. Ibu mengantar jemputku, walau sampai malam karna aku sibuk rapat organisasi. Yangti yang menemaniku belajar atau kerja tugas hingga larut malam bahkan dini hari, walaupun beliau menemani sambil tidur di kursi sebelah meja belajarku. Ayah yang humoris dan periang, yang selalu tak habis berkelakar dan membuatku tertawa serta lupa berbagai beban ku di kampus. Serta teman2 geng kampusku. Kami menyebut diri kami pokemon. 6 orang cewe2 setrong, yang hampir semuanya juga aktivis kampus mirip aku. Kami sering bersama saat di kelas. Kami juga sering belajar bareng setiap mau ujian atau ketika ada tugas modul. Ketika akhir2 semester saat sibuk skripsi, kami saling mensupport satau sama lain, walaupun tergabung dalam kelompok penelitian yang berbeda. Janji kami adalah kita harus lulus S.Ked bareng. Disaat aku msh aktif di organisasi, sibuk laporan akhir tahun, rapat ini itu, serta harus kerja lab skripsi bersama teman2 penelitian, bbrp tmnku mulai ujian. Aku langsung kebut. Hampir aku putus asa bareng teman penelitianku karena kami harus ganti judul dan ganti variabel. Gila. Gimana caranya aku kebut bareng temanku. Alhamdulillaah.. aku ujian skripsi di thn 2012 awal, 1 bulan sebelum penutupan pendaftaran yudisium, dan partner skripsiku ujian di hari2 terakhir sebelum penutupan yudisium I. Kami lulus bareng, dan aku menepati janjiku untuk lulus barengan pokemon. Kami ber6 lulus bersama sama. Alhamdulillah..

Masuklah kami ke kehidupan klinik, atau yang disebut koas atau pendidikan profesi di RS Saiful Anwar Malang. Koas disini kami tempuh selama kurang lebih 1,5 tahun, apabila tepat waktu-noted. Pokemon berpisah. Lulusan SKed ini dipencar kedalam 14 departemen di RS tersebut. Kami udah jalan sendiri2, jadwal kami sudah berbeda. Udah sangat sulit untuk bertemu atau janjian main. Kebanyakan, pertemuan singkat kami adalah di lorong rumah sakit, ketika kami sibuk mengurusi pasien masing2, itupun hanya say hai sambil agak heboh lalu melanjutkan tugas masing2. Biasanya kami bisa main kalau sedang berada di departemen yang santai, atau habis ujian departemen, itupun juga tidak lengkap. Kehidupan koas itu berkutat di sekitar laporan pagi atau morning report, visite pasien, tulis status di rekam medis, kerja AP ppds, diskusi kasus, tugas2 referat, serta jaga malam. Banyak ya? Wkwkwk. Iya banyak. Maka dari itu, dokter memiliki ikatan dengan sejawat yang cukup kuat. Karena kehidupan kami juga berkutat di sekitar rumah sakit. Kami saling membantu, mengcover, untuk kepentingan pasien. Tak ayal, keluarga dinomor duakan. Pulang kerumah sudah letih dan lelah, lahir dan batin. Apalagi setelah jaga malam, yang dilanjut stase pagi serta baru pulang sore. Dirumah sudah tinggal tidur. Makan kadang tidak teratur. Tidur juga tidak jelas, terutama saat jaga malam dan banyak pasien. Agenda acara keluarga terlewatkan. Hari raya dan tanggal merah diisi dengan jaga UGD. Percayalah, setiap dokter pasti pernah mengalami hal tersebut.

Kadangkala aku lelah dan capek. Sering dimarahi ppds, tugas banyak dan belum selesai padahal sudah dekat deadline, rentetan jadwal jaga malam yang terus bertumpuk, pasien banyak saat jaga malam dan mepet banget untuk bikin laporan morning report, pasien dengan kondisi jelek, pasien meninggal, menyampaikan berita buruk ke pasien dan keluarga, tidak tidur saat jaga malam, itu sudah sering sekali. Sesekali aku menyempatkan diri membaca buku2 humor yang lucu, dan terkadang aku tertawa sendiri, kadang menertawakan isi buku, kadang menertawakan diri sendiri. Wkwk. Yeah, it keeps me sane.

Trauma?

Kuakui, ada beberapa departemen yang membuatku trauma. Cita2ku dulu saat sma adalah menjadi dokter, karna aku ingin menurunkan angka kematian ibu hamil yang merupakan tujuan MDGs 2015. Cukup ambisius kan untuk level anak sma? Tapi setelah aku koas dan melewati departemen obstetric dan gynecology atau kandungan, mimpi itu pudar. Aku trauma. Ppds dan bidan yang kadang tak masuk akal, korden diikat atau sapu ditaruh dibelakang pintu untuk menolak pasien. Dimarahi ppds karena saat jaga malam dengan ybs pasienku selalu banyak. Salah gue ya? Atau salah temen2 gue? Itu kejadian yang sangat bikin sebel dan bete. Sampai aku diasingkan dari kamar bersalin dan dimarah2i. Setelah saat itu aku bersumpah ga akan ikut campur di bagian obgyn kalau gak dikonsuli. Apalagi kalo dengar pendapat dari bagian lain. Ppds obgyn terkenal gaduh gelisah, heboh sendiri, sampai hal2 kecil aja dikonsulkan ke bagian lain, ckckck

Sudah deh perkara obgyn, wkwk, capek bgt ngomonginnya, bawaannya pingin ngilang aja kalo jaga di kamar bersalin (>,<). Berasa banget ya bencinya ke obgyn, jangan2 habis ini cinta mati deh, jadi SpOG? Wkwkwk, nah lho kapokmu kapan (>,<). Karna by the way, sampai sekarang aku jg msh bingung kalo ditanyain pingin lanjut ambil spesialis apa, wakakakaka, harahhh!

Dan kegalauan ku ini, ditambah badan lagi melar, perut buncit sambil ada yang nendangin usia 6bulan di uterusku, fluktuasi hormon, bikinlah bumil satu ini makin baper. Bawaannya pingin marah2, trus mewek, trus marahi suami, sama nyalah2in suami. Hehe. Secara gue sekarang kerja di RSIA aka rumah sakit ibu dan anak. Apa nggak tambah baper menjadi2?? Ada pasien abortus baper, pasien IUFD baper, pasien jerit2 kesakitan pas partus normal baper. Udah lah dok, pulang aja dok kerumah daripada kebanyakan baper. Well, i wish..

Nah ini, kadangkala, nggak sedikit, kami2 para wanita, yang sekolah susah2 sampai lulus jadi dokter, yang udah ngabisin banyak duit orang tua, keringat dan peluh mereka, keringat dan peluh kita sendiri, sampai berdarah2 lah tangan kita belajar buka ampul obat, menyerah saat memasuki jenjang pernikahan. Menyerah pada mimpi saat lajang dahulu. Menyerah untuk mengejar karir. Menurunkan ego, menurunkan standar. Tak ingin menomorduakan keluarga, pingin ikut berbagai acara keluarga, ingin mengurus sendiri anak karena tidak ingin melewatkan golden period mereka, ingin selalu ada untuk keluarga terdekat. Karena kadang kami lelah mengurusi nyawa orang lain disaat keluarga sendiri terbengkalai. Lelah mengurusi pasien saat badan sendiri tidak terurusi, lelah memberi nasihat pasien disaat diri sendiri juga butuh diperhatikan. Saya lelah..

Ini bukan akhir segalanya. Percayalah ayah, ibu, aku tak akan membuang sia2 kerja kerasmu menyekolahkanku hingga setinggi ini. Aku hanya ingin istirahat. Ketika lelah, aku akan belajar untuk istirahat, bukan berhenti. Itu yang ingin aku lakukan sekarang. Bolehkah?

(T,T)

 

Malang, 23 maret 2017

00.25 WIB

Sedang jaga malam

Advertisements

1 tahun di Madiun

midnite, suddenly a lot of random thought crossing my mind

yep. satu tahun di Madiun. berkesan. menyenangkan. tetiba keingat jaman stase poli interna, datang jam setengah 6 pagi untuk visite pasien satu bangsal lanjut jaga di poli mulai jam 9 sampe pasien habis. pasien habis means sampe habis *yaiyalah. bisa nih nyampe 120pasien, hari senin terutamaaa.. untung dokter umum ada 2, dokter spesialis dalam ada 1, dibantu 2 orang perawat. byuh.

tetiba teringat kegaduh gelisahanku ketika di poli bedah. dimana pasiennya macem2, kudu pinter2 komunikasi, kasih informasi dan edukasi ke pasien. dimana keputusan pasien ini operasi ato gak ditangan gue. dimana spesialis bedahnya cuma terima kerjakan di kamar operasi. dimana jadwal operasi pun diserahkan ke gue. dan dimana aku jadi satu2nya penguasa poli bedah, operasi minor langsung digarap sendiri. gosh. untung perawat poli bedah sungguh salut dan perkasa,walau cuma 2 orang. hebat!

inget2 waktu jaga ugd. pas lagi luang belajar bareng sm dr.T….., fungsional di ugd rsud sogaten. kita belajar cardio, jaahahahahaha. mentang2 kita habis gitu ikutan simposium cardio di surabaya. inget pas jaga ugd di hari raya, h+2 sih sebenernya. dan meja ugd isinya kue lebaran semua, hahaha. inget jaga ugd si mas dony selalu setel musik bazzoka tembang jawa. ampun maass.. wkwkwkwk.

inget juga jaga ugd pagi, dimana aku benci banget karena berasa ga guna. karena itu dokter fungsional ugd pagi sangat rajin, cepat dan cekatan. kita2 dokter internsip mah lewat, ga ada apa2nya. tapi di pagi menuju siang itu kita dpt pasien CVA, yang awalnya GCS 446, terpasang O2 dan infus, tetiba kolaps dan apnue. gosh. pas banget yaaaa kita habis diskusi dan kupas tuntas buku acls bareng dr.F….. dan dr.S….. penanggung jwb HD. alamak yaaa langsung lah cpr, bertiga kita kerjasama, aku gntian cpr, dr.F leader, dr.S nyatet obat. 20mnt lewat, tanpa disangka pasien ROSC alias kembali denyut jantung. subhanallah rasanyaaa.. tdk ada yg bisa menggantikan. setelah stabil pasien di transfer ke ICU

tetiba kangen kelakuanku yang ngrepoti malem2 yaitu ngetok mbak apotik pemegang kunci rak kue yang lagi bobo gegara kelaparan dan mau beli kue dan susu di koperasi. kangen makan soto di puskesmas. kangen nebeng bu bidan tiap ke pustu ato nebeng pak perawat tiap ke posyandu lansia. kangen diskusi sama partner miniproject puskesmas saya, kangen oper2an pasien gak jelas sama dia, bahahahahak.

Time has passed. It all saved in my memory. Became a history. and surely it was a good time.

 

Confusion – brainstorming

images (8)

*written once upon a day, in a bright and sunny Saturday morning – bersih2 tumblr part 3

Yuk. Jd pagi ini ceritanya saya udh sampe rs jam 6 pagi, wkwk. Pdhal poli tht dan konsulen tht baru datang jam 8. Ahahaha. Guess what? Sy nemenin temen visit pasien di bangsal anak. Etapi aku ga guna jg ya, dia visit, aku duduk manis di ruang perawat, hihi

Pagi ini, entah kenapa, bnyk pikiran2 yg terlintas. Salah satunya yg masih jadi pertanyaan besar bagi saya adalah, why me? Kenapa dulu jaman koas gue harus ujian interna sama konsulen paling killer se rs. Apa salah gue? Biasanya yee.. Konsulen ybs langganan ujian sama dua macam koas: yg pertama patol bangeett.. Pencilakan, ketauan ngilang pas jam stase ato jaga, ga bener, attitude jelek. Tipe kedua, adalah tipe koas pinter bingiiittt.. Cerdas, dan paling pinter se angkatan interna saat itu. Nah gue? Boro2 pinter, jaman koas dulu, visit pasien aja kelabakan. Maju responsi juga jawaban gue ga 100% oke bingit yg bikin konsulen manggut2. Tapi klo dibilang patol banget juga ga terima gue. Secara gue klo jaga malam jam 4 sore teng habis operan sdh di ruangan. Kemana2 blg perawatnya. Klo ngantuk bgt jg ketiduran di ruang perawat. I’m not going anywhere!

Sampailah gue jd koas senior. Waktunya sibuk ujiaaannn. Gue sumpah antara ndredek sm ga percaya ujian sm konsulen yg terkenal seantero rs galak dan disiplin sama koas. Ppds aja tnya ke gue. Dek, km ujian sm konsulen A ya? Aku dlm hati jerit2, ampun dok saya juga ga tauuu.. Huhuhu

Daaann pas jaman saya senior, junior saya bermasalah. Attitudenya krg oke. Konsulen ybs ga suka sm junior gue. Alamakk. Akhirnya gue mikir, kayaknya gara2 gue gak bener nih ndidik junior. Yaudah deh, gue pasrah, ujian ayo dah ujian aja. Gue kudu belajar

Saat ujian tibaaa.. Gue 3x ngadep beliau, mulai dr bedsite ke psien langsung, ujian lisan, tulisan, sm dikasi peer. Udh. Anehnya, sebelum ujian pagi itu beliau malah cerita dan kasih nasihat ke gue. Beliau bilang gini ke gue. (Sdh disadur ssuai ingatan penulis). “Bayangkan apabila saudara menjadi dokter di daerah yg sangat membutuhkan saudara. Disana ga ada dokter, tempatnya jauh di pucuk gunung. Saudara satu2nya dokter disana. Bayangkan bila ternyata posisi anda sangat membantu masyarakat disana. Dan ternyata stlh jaman globalisasi adanya internet, saudara mampu menulis pengalaman saudara. Mreka smua yg di tempat lain jadi tau akan keadaan kesehatan di tempat saudara ptt. Dunia jd terbuka matanya”. Gue, dengan jas koas lengan panjang kebanggaan, nametag dokter muda, pikiran udh merapal lab pasien dan teori ujian, seketika berkaca2, dan netes. Sumpah, gue pengen ngrasain itu. Gue pengen ada disana. Merasakan jd ujung tombak kesehatan. Merasakan susah payahnya pasien hanya utk menjangkau puskesmas terdekat kudu menempuh berkilo2 jauhnya. Merasakan hangatnya senyum pasien gue yg akhirnya diijinkan Allah untuk sembuh. Hal yang tidak mampu tergantikan oleh apapun, bagi seorang dokter.

Sekarang, sudah hampir 2tahun kejadian gue ujian akhir interna sama beliau. Alhamdulillah, nilainya oke sih, hehe. Tp satu hal yg bakalan gue inget dari pengalaman ujian gue kali itu serta hikmah yg bisa diambil. Gue ga akan menyerah, untuk mereka diluar sana, yg bersusah payah cari pelayanan kesehatan, untuk ibu2 yg berjuang melahirkan buah hatinya. Untuk ujung tombak puskesmas yg blusukan ke desa2 nun jauh disana untuk memastikan semua anak dapat vaksinasi. Aku gak akan menyerah.

-dokter internship yang lagi duduk manis di suatu pagi yg selow di bangsal anak, RSUD Kota Madiun-

Ketulusan Hatiku

*written 20Januari 2016 after morning shift at clinic (bersih2 tumblr part 2)

Jadi, aku mau curhat nih judulnya. pagi tadi aku jaga pagi, di klinik faskes primer di kota yg sudah aku tinggali selama 12 tahun ini (minus setahun internsip di madiun). namanya jaga klinik, pasien banyak tapi santai. rawat jalan semuanya. jarang ada pasien gawat. jadi aku kerjanya santai asoy geboy gt. hehe

Jarum pendek di jam dinding yg ada di tmpt praktekan tiba2 udah nyampe di angka 12 aja. aku gaduh gelisah waktunya dhuhur. akhirnya aku ijin sholat dulu deh ya, pasiennya dipending. baru sampe kamar mandi mau siap2, mb perawat berhambur masuk. dok boleh kembali ke ruangan sebentar ga? ini ada pasien keburu2 minta segera diperiksa, katanya udh nunggu drtd, keburu balik kantor. hmm.. baiklah, one more patient it will be okay. akhirnya aku sgera balik. setelah kuperiksa, ternyata dermatitis atopi, gatel doang. digaruk jg msh kuat. yaudahlah biar ga ribut pasien segera aku resepi dan dia pulang. aku segera menuntaskan kewajibanku sebelum pasien yg lain dtg.

5menit lewat, kewajibaku kepada Allah SWT sdh aku tunaikan. saatnya balik ruangan. aku kasih kode ke mas perawat untuk lanjut pasien berikutnya (kok mas sih, pdhal td mbak ya? haha. skip)

Pasien berikutnya yg masuk adalah bapak dan ibu. beliau masuk bareng, dan memang sama2 bertujuan untuk kontrol. si bapak menyapa dgn hangat, hahaha. ini malah kebalik, bapaknya yg ramah. kemudian persilakan duduk. tetiba bapak ini banyak bercerita, ketika aku sibuk membaca dan memahami tulisan yg menerangkan status pengobatan beliau. awalnya tanya2 tentang diriku, aku jwb sekenanya. kemudian cerita ttg anaknya, cerita rumahnya, cerita kenalannya. setelah aku memahami permasalahan kedua pasienku, akhirnya aku meminta si ibu untuk aku periksa dahulu

Sang ibu terlihat kesulitan naik ke atas bed, aku bantu sedikit. setelah berhasil naik dan siap diperiksa, aku minta ibu membuka kancing baju, tangan ibu itu hanya memaku, tak bergerak, seolah kaku, kemudian ibu itu berkata, “sejak saya di kemo, tangan saya jd kaku dok, tidak bisa digerakkan, jari2 saya juga”. “oiya bu”, jawabku seraya membuka kancing bajunya satu persatu dan mulai memeriksa

Ketika aku sampai di pemeriksaan perut, ibu bercerita,“sy sdh dioperasi ini dok, di RS**”, rs tipe A di kotaku. ya, ibu yg dihadapan saya ini adalah pasien ca mamae. kanker payudara telah mengambil jaringan payudaranya sehingga mengharuskan dilakukannya operasi pengangkatan payudara kanan dan kiri. “trus ini muncul benjolan lagi”, lanjut si ibu. “padahal saya dulu kemo 8x”. “baik bu sudah selesai pemeriksaannya”, ujarku. si Ibu bangun, aku bersiap membantunya mengancingkan baju kembali. si ibu menolaknya, “sudah gapapa dok, biar dikancingkan sama bapaknya”. aku membantu ibunya berdiri. si bapak langsung berdiri dan membantu istrinya mengancingkan baju.

Kemudian ibu tersebut kembali duduk. baru saja kuperhatikan, ternyata ibu itu tremor, kedua tangannya tremor, ringan, tp terlihat. ibu tersebut aku putuskan untuk kurujuk ke spesialis terkait di rs yg mereka tuju

Selama proses pemeriksaan ku kepada si bapak, setelah aku menyelesaikan status pengobatan ibu, kesan yg kudapat adalah ceria. si bapak meneruskan proses interogasinya denganku anyway. hahaa. mulai dr tanya alamat rumah, dsb dsb. kok ya kebetulan sekali rmh kami tidak jauh, akhirnya bapak kembali bercerita seputar rumahnya

Dengan susah payah aku menyela untuk menanyakan keluhan yg bapak rasakan dan status kesehatannya. ternyata bapak tersebut hanya berniat kontrol dan juga ke spesialis terkait. beliau menderita kencing manis dan hipertensi. bahkan si bapak sampai pada pertanyaan, dokter orang mana. hahaha. aku jawab sekenanya, saya lahir surabaya pak, besar di malang. Kemudian bapak ikut bercerita, “lho dok saya juga Surabaya dok, tapi saya mulai SR (istilah sd jaman belanda dulu), smp, sma, sekolah …. (aku lupa) di Malang. trus ketemu ibu di Malang, eh kecantol orang Malang”, cerita si bapak penuh semangat. “Whaaa trnyata bapak kecantol ibu yg org Malang yaaa”, candaku. “iya”, jawab si bapak

Setelah aku selesaikan berkas2, aku beri penjelasan kepada mereka berdua ttg rencanaku terhadap proses pengobatan mereka. setelah bapak dan ibu itu paham, mereka pun pamit. “Terimakasih banyak dok”, “sama2 pak, bu, hati2 ya”, jwbku. mereka keluar dari ruangan. si bapak menunggu ibu untuk jalan duluan dan membantunya serta membawakan tas si ibu. tak kutangkap adanya sebersit keluhan ataupun ketidaksabaran ataupun kesedihan. bapak tersebut sangat ceria dan gemar bercerita. akupun tak sempat memandang dengan empati pada si ibu. aku tahu, tak mudah untuk pergi berobat di Indonesia. mungkin mereka sdh antri mulai pagi, mungkin mereka perlu berpegangan tangan spaya bisa berjalan dgn baik, mungkin mereka sudah menunggu dan duduk terlalu lama. tapi mereka tidak mengeluh. Mereka, yang usianya sdh lebih tua dr ayah ibuku, mngkn sdkt lbh muda dari eyangku, tidak mengeluh. Mereka berdua tidak mengeluh atas takdir yang mereka terima. dan mereka dengan sabar melewati proses yang harus dilalui.

Ya Allah ya Rob, pertemukanlah aku dgn manusia2 hebat, yang telah Engkau beri kekuatan dalam dirinya, Engkau beri kesabaran, pertemukanku dengan keajaiban2mu, Ya Allah, supaya aku termasuk dalam orang2 yang pandai bersyukur, amin 😊

unnamed (1)

Cerita Hari Kartini

written at 21 April 2015 (bersih2 tumblr part1)

Well well, jd acaranya pake kebaya ke puskesmas. Smuanya. Tanpa terkecuali. Ini otak udh berpikir keras hari2 sebelumnya. Wait, ane dsuruh pake kebaya yg rempon kyk mau ke kondangan, tp hbs itu ttp kerjakan pasien. Haduuu ini aturannya ribeett.. Diliburkan aja gimanaaa*dikeplak bakiak sama kapus ane*

Untung mami saya jg ga ribet2 amat orgnya. Jadilah jarik pinjeman yg ga sepenuhnya jarik tp udh jadi rok, dan kebaya dan jilbab udh terpaketkan rapi dari malang khusus menyambut hari kartini tahun ini. Here we go
Pagi2 nih ye, dandan cantik, turun dari kosan ane yg adalah lantai 3 ya, trus diliatin sama org2 di parkiran. Mak ane insecure. Aku terlalu menor ya? Mamaaaaaaa 😭😭
Ngibriiitt masuk mobil. Jemput besties di rumah dinas, cuss puskesmas. Tmn ne blg, wihh km maksimalis totalis. Oh just shut up
Sampek puskesmas, rame. Banyak bapak polisi. Mobil2 polisi parkir dpn puskesmas. Trus ane parkir manaaa.. Yaudah jadilah jauh. Ada kali 100meter an dari pkm. Kali ini ane ga sendiri. Aku jalan dipinggir jalan dgn dandanan kebaya total plus make up diliatin org, barengan sama yesiii.. Yeyeyeye. Hihihi
Then inilah kitaaa.. Doksip puskesmas oro2 ombo dgn bangga dan suka cita menyambut hari kartini 2015 dgn spirit kartini yang tak akan menyerah terus belajar tanpa melupakan kodrat sebagai seorang wanita sesungguhnya:)Screenshot_2016-01-24-01-54-48-03