What are you wish for?

Ya, masa lalu adalah milik kita masing2, dan masa depan adalah milik kita bersama. Tapi tahukah kamu kalau masa lalu itu membentuk karakter dan kepribadian seseorang?

6 tahun aku berjuang untuk mewujudkan cita cita menjadi dokter, walau agak setengah hati, aku akui, karna dahulu aku ingin sekali kembali ke kota kelahiranku, sekolah di Surabaya. Tapi orangtuaku tidak memberi restu. Sekedar mencoba tes di surabaya saja aku dihalangi. Kata mereka sama saja lah. Aku menyerah, terlalu mudah memang. Aku pun patuh. Aku hanya mencoba tes masuk kedokteran di kota tempatku bermukim. Alhamdulillah aku lolos.

Hari2 baru berganti. Aku mulai mempersiapkan semuanya untuk menjadi mahasiswa kedokteran. Gampang bagiku mendapat teman, karna lumayan banyak teman smaku yang lolos fakultas kedokteran sama sepertiku. Kemudian, masa ospek pun datang. Aku yang bermental lemah, jadi gampang menangis. Aku yang sehari2 sering dibantu ibuku, jadi gampang mengeluh. Tapi aku tetap memperjuangkannya. Aku ingat kata kakak2 serta dosen2 di kampusku yang sangat memotivasi, kalo sudah terciprat air, nyemplung aja sekalian. Aku tak mau menyerah, aku harus totalitas

Hari demi hari sebagai mahasiswa kedokteran akhirnya kujalani. Rentetan tugas, modul, kuliah, buku teks, praktikum, dan ujian2 aku lalui. Ujian anatomi yang jadi momok mahasiswa kedokteran dengan bel timer nya yang mengagetkan dan bikin otak blank, ujian histologi yang rumit bin mbulet karna pusing bedain preparatnya, serta ujian skripsi yang harus ditempuh untuk mendapatkan gelar sarjana kedokteran. Selain hal akademik, traumatis masa ospek dengan kakak2 tingkat tak membuatku berkecil hati. Aku malah penasaran. Apa sih maksud mereka dahulu dengan didikan macam itu kepada mahasiswa baru. Aku ingin tahu. Awalnya, aku mencoba berpartisipasi di kepanitiaan kampus, kemudian menjadi staf di organisasi kemahasiswaan kampus, di tahun kedua aku dipercaya merumuskan konsep acara ospek mahasiswa baru, dan tahun ketiga aku menjadi pengurus inti organisasi mahasiswa di fakultasku. Wow. Dan aku lulus sarjana kedokteran tepat waktu, tiga setengah tahun. Alhamdulillah

Aku tidak sendiri. Ada ayah, ibu, yangti dirumah. Keluarga yang selalu mensupportku. Ibu mengantar jemputku, walau sampai malam karna aku sibuk rapat organisasi. Yangti yang menemaniku belajar atau kerja tugas hingga larut malam bahkan dini hari, walaupun beliau menemani sambil tidur di kursi sebelah meja belajarku. Ayah yang humoris dan periang, yang selalu tak habis berkelakar dan membuatku tertawa serta lupa berbagai beban ku di kampus. Serta teman2 geng kampusku. Kami menyebut diri kami pokemon. 6 orang cewe2 setrong, yang hampir semuanya juga aktivis kampus mirip aku. Kami sering bersama saat di kelas. Kami juga sering belajar bareng setiap mau ujian atau ketika ada tugas modul. Ketika akhir2 semester saat sibuk skripsi, kami saling mensupport satau sama lain, walaupun tergabung dalam kelompok penelitian yang berbeda. Janji kami adalah kita harus lulus S.Ked bareng. Disaat aku msh aktif di organisasi, sibuk laporan akhir tahun, rapat ini itu, serta harus kerja lab skripsi bersama teman2 penelitian, bbrp tmnku mulai ujian. Aku langsung kebut. Hampir aku putus asa bareng teman penelitianku karena kami harus ganti judul dan ganti variabel. Gila. Gimana caranya aku kebut bareng temanku. Alhamdulillaah.. aku ujian skripsi di thn 2012 awal, 1 bulan sebelum penutupan pendaftaran yudisium, dan partner skripsiku ujian di hari2 terakhir sebelum penutupan yudisium I. Kami lulus bareng, dan aku menepati janjiku untuk lulus barengan pokemon. Kami ber6 lulus bersama sama. Alhamdulillah..

Masuklah kami ke kehidupan klinik, atau yang disebut koas atau pendidikan profesi di RS Saiful Anwar Malang. Koas disini kami tempuh selama kurang lebih 1,5 tahun, apabila tepat waktu-noted. Pokemon berpisah. Lulusan SKed ini dipencar kedalam 14 departemen di RS tersebut. Kami udah jalan sendiri2, jadwal kami sudah berbeda. Udah sangat sulit untuk bertemu atau janjian main. Kebanyakan, pertemuan singkat kami adalah di lorong rumah sakit, ketika kami sibuk mengurusi pasien masing2, itupun hanya say hai sambil agak heboh lalu melanjutkan tugas masing2. Biasanya kami bisa main kalau sedang berada di departemen yang santai, atau habis ujian departemen, itupun juga tidak lengkap. Kehidupan koas itu berkutat di sekitar laporan pagi atau morning report, visite pasien, tulis status di rekam medis, kerja AP ppds, diskusi kasus, tugas2 referat, serta jaga malam. Banyak ya? Wkwkwk. Iya banyak. Maka dari itu, dokter memiliki ikatan dengan sejawat yang cukup kuat. Karena kehidupan kami juga berkutat di sekitar rumah sakit. Kami saling membantu, mengcover, untuk kepentingan pasien. Tak ayal, keluarga dinomor duakan. Pulang kerumah sudah letih dan lelah, lahir dan batin. Apalagi setelah jaga malam, yang dilanjut stase pagi serta baru pulang sore. Dirumah sudah tinggal tidur. Makan kadang tidak teratur. Tidur juga tidak jelas, terutama saat jaga malam dan banyak pasien. Agenda acara keluarga terlewatkan. Hari raya dan tanggal merah diisi dengan jaga UGD. Percayalah, setiap dokter pasti pernah mengalami hal tersebut.

Kadangkala aku lelah dan capek. Sering dimarahi ppds, tugas banyak dan belum selesai padahal sudah dekat deadline, rentetan jadwal jaga malam yang terus bertumpuk, pasien banyak saat jaga malam dan mepet banget untuk bikin laporan morning report, pasien dengan kondisi jelek, pasien meninggal, menyampaikan berita buruk ke pasien dan keluarga, tidak tidur saat jaga malam, itu sudah sering sekali. Sesekali aku menyempatkan diri membaca buku2 humor yang lucu, dan terkadang aku tertawa sendiri, kadang menertawakan isi buku, kadang menertawakan diri sendiri. Wkwk. Yeah, it keeps me sane.

Trauma?

Kuakui, ada beberapa departemen yang membuatku trauma. Cita2ku dulu saat sma adalah menjadi dokter, karna aku ingin menurunkan angka kematian ibu hamil yang merupakan tujuan MDGs 2015. Cukup ambisius kan untuk level anak sma? Tapi setelah aku koas dan melewati departemen obstetric dan gynecology atau kandungan, mimpi itu pudar. Aku trauma. Ppds dan bidan yang kadang tak masuk akal, korden diikat atau sapu ditaruh dibelakang pintu untuk menolak pasien. Dimarahi ppds karena saat jaga malam dengan ybs pasienku selalu banyak. Salah gue ya? Atau salah temen2 gue? Itu kejadian yang sangat bikin sebel dan bete. Sampai aku diasingkan dari kamar bersalin dan dimarah2i. Setelah saat itu aku bersumpah ga akan ikut campur di bagian obgyn kalau gak dikonsuli. Apalagi kalo dengar pendapat dari bagian lain. Ppds obgyn terkenal gaduh gelisah, heboh sendiri, sampai hal2 kecil aja dikonsulkan ke bagian lain, ckckck

Sudah deh perkara obgyn, wkwk, capek bgt ngomonginnya, bawaannya pingin ngilang aja kalo jaga di kamar bersalin (>,<). Berasa banget ya bencinya ke obgyn, jangan2 habis ini cinta mati deh, jadi SpOG? Wkwkwk, nah lho kapokmu kapan (>,<). Karna by the way, sampai sekarang aku jg msh bingung kalo ditanyain pingin lanjut ambil spesialis apa, wakakakaka, harahhh!

Dan kegalauan ku ini, ditambah badan lagi melar, perut buncit sambil ada yang nendangin usia 6bulan di uterusku, fluktuasi hormon, bikinlah bumil satu ini makin baper. Bawaannya pingin marah2, trus mewek, trus marahi suami, sama nyalah2in suami. Hehe. Secara gue sekarang kerja di RSIA aka rumah sakit ibu dan anak. Apa nggak tambah baper menjadi2?? Ada pasien abortus baper, pasien IUFD baper, pasien jerit2 kesakitan pas partus normal baper. Udah lah dok, pulang aja dok kerumah daripada kebanyakan baper. Well, i wish..

Nah ini, kadangkala, nggak sedikit, kami2 para wanita, yang sekolah susah2 sampai lulus jadi dokter, yang udah ngabisin banyak duit orang tua, keringat dan peluh mereka, keringat dan peluh kita sendiri, sampai berdarah2 lah tangan kita belajar buka ampul obat, menyerah saat memasuki jenjang pernikahan. Menyerah pada mimpi saat lajang dahulu. Menyerah untuk mengejar karir. Menurunkan ego, menurunkan standar. Tak ingin menomorduakan keluarga, pingin ikut berbagai acara keluarga, ingin mengurus sendiri anak karena tidak ingin melewatkan golden period mereka, ingin selalu ada untuk keluarga terdekat. Karena kadang kami lelah mengurusi nyawa orang lain disaat keluarga sendiri terbengkalai. Lelah mengurusi pasien saat badan sendiri tidak terurusi, lelah memberi nasihat pasien disaat diri sendiri juga butuh diperhatikan. Saya lelah..

Ini bukan akhir segalanya. Percayalah ayah, ibu, aku tak akan membuang sia2 kerja kerasmu menyekolahkanku hingga setinggi ini. Aku hanya ingin istirahat. Ketika lelah, aku akan belajar untuk istirahat, bukan berhenti. Itu yang ingin aku lakukan sekarang. Bolehkah?

(T,T)

 

Malang, 23 maret 2017

00.25 WIB

Sedang jaga malam