1 tahun di Madiun

midnite, suddenly a lot of random thought crossing my mind

yep. satu tahun di Madiun. berkesan. menyenangkan. tetiba keingat jaman stase poli interna, datang jam setengah 6 pagi untuk visite pasien satu bangsal lanjut jaga di poli mulai jam 9 sampe pasien habis. pasien habis means sampe habis *yaiyalah. bisa nih nyampe 120pasien, hari senin terutamaaa.. untung dokter umum ada 2, dokter spesialis dalam ada 1, dibantu 2 orang perawat. byuh.

tetiba teringat kegaduh gelisahanku ketika di poli bedah. dimana pasiennya macem2, kudu pinter2 komunikasi, kasih informasi dan edukasi ke pasien. dimana keputusan pasien ini operasi ato gak ditangan gue. dimana spesialis bedahnya cuma terima kerjakan di kamar operasi. dimana jadwal operasi pun diserahkan ke gue. dan dimana aku jadi satu2nya penguasa poli bedah, operasi minor langsung digarap sendiri. gosh. untung perawat poli bedah sungguh salut dan perkasa,walau cuma 2 orang. hebat!

inget2 waktu jaga ugd. pas lagi luang belajar bareng sm dr.T….., fungsional di ugd rsud sogaten. kita belajar cardio, jaahahahahaha. mentang2 kita habis gitu ikutan simposium cardio di surabaya. inget pas jaga ugd di hari raya, h+2 sih sebenernya. dan meja ugd isinya kue lebaran semua, hahaha. inget jaga ugd si mas dony selalu setel musik bazzoka tembang jawa. ampun maass.. wkwkwkwk.

inget juga jaga ugd pagi, dimana aku benci banget karena berasa ga guna. karena itu dokter fungsional ugd pagi sangat rajin, cepat dan cekatan. kita2 dokter internsip mah lewat, ga ada apa2nya. tapi di pagi menuju siang itu kita dpt pasien CVA, yang awalnya GCS 446, terpasang O2 dan infus, tetiba kolaps dan apnue. gosh. pas banget yaaaa kita habis diskusi dan kupas tuntas buku acls bareng dr.F….. dan dr.S….. penanggung jwb HD. alamak yaaa langsung lah cpr, bertiga kita kerjasama, aku gntian cpr, dr.F leader, dr.S nyatet obat. 20mnt lewat, tanpa disangka pasien ROSC alias kembali denyut jantung. subhanallah rasanyaaa.. tdk ada yg bisa menggantikan. setelah stabil pasien di transfer ke ICU

tetiba kangen kelakuanku yang ngrepoti malem2 yaitu ngetok mbak apotik pemegang kunci rak kue yang lagi bobo gegara kelaparan dan mau beli kue dan susu di koperasi. kangen makan soto di puskesmas. kangen nebeng bu bidan tiap ke pustu ato nebeng pak perawat tiap ke posyandu lansia. kangen diskusi sama partner miniproject puskesmas saya, kangen oper2an pasien gak jelas sama dia, bahahahahak.

Time has passed. It all saved in my memory. Became a history. and surely it was a good time.

 

Advertisements

Confusion – brainstorming

images (8)

*written once upon a day, in a bright and sunny Saturday morning – bersih2 tumblr part 3

Yuk. Jd pagi ini ceritanya saya udh sampe rs jam 6 pagi, wkwk. Pdhal poli tht dan konsulen tht baru datang jam 8. Ahahaha. Guess what? Sy nemenin temen visit pasien di bangsal anak. Etapi aku ga guna jg ya, dia visit, aku duduk manis di ruang perawat, hihi

Pagi ini, entah kenapa, bnyk pikiran2 yg terlintas. Salah satunya yg masih jadi pertanyaan besar bagi saya adalah, why me? Kenapa dulu jaman koas gue harus ujian interna sama konsulen paling killer se rs. Apa salah gue? Biasanya yee.. Konsulen ybs langganan ujian sama dua macam koas: yg pertama patol bangeett.. Pencilakan, ketauan ngilang pas jam stase ato jaga, ga bener, attitude jelek. Tipe kedua, adalah tipe koas pinter bingiiittt.. Cerdas, dan paling pinter se angkatan interna saat itu. Nah gue? Boro2 pinter, jaman koas dulu, visit pasien aja kelabakan. Maju responsi juga jawaban gue ga 100% oke bingit yg bikin konsulen manggut2. Tapi klo dibilang patol banget juga ga terima gue. Secara gue klo jaga malam jam 4 sore teng habis operan sdh di ruangan. Kemana2 blg perawatnya. Klo ngantuk bgt jg ketiduran di ruang perawat. I’m not going anywhere!

Sampailah gue jd koas senior. Waktunya sibuk ujiaaannn. Gue sumpah antara ndredek sm ga percaya ujian sm konsulen yg terkenal seantero rs galak dan disiplin sama koas. Ppds aja tnya ke gue. Dek, km ujian sm konsulen A ya? Aku dlm hati jerit2, ampun dok saya juga ga tauuu.. Huhuhu

Daaann pas jaman saya senior, junior saya bermasalah. Attitudenya krg oke. Konsulen ybs ga suka sm junior gue. Alamakk. Akhirnya gue mikir, kayaknya gara2 gue gak bener nih ndidik junior. Yaudah deh, gue pasrah, ujian ayo dah ujian aja. Gue kudu belajar

Saat ujian tibaaa.. Gue 3x ngadep beliau, mulai dr bedsite ke psien langsung, ujian lisan, tulisan, sm dikasi peer. Udh. Anehnya, sebelum ujian pagi itu beliau malah cerita dan kasih nasihat ke gue. Beliau bilang gini ke gue. (Sdh disadur ssuai ingatan penulis). “Bayangkan apabila saudara menjadi dokter di daerah yg sangat membutuhkan saudara. Disana ga ada dokter, tempatnya jauh di pucuk gunung. Saudara satu2nya dokter disana. Bayangkan bila ternyata posisi anda sangat membantu masyarakat disana. Dan ternyata stlh jaman globalisasi adanya internet, saudara mampu menulis pengalaman saudara. Mreka smua yg di tempat lain jadi tau akan keadaan kesehatan di tempat saudara ptt. Dunia jd terbuka matanya”. Gue, dengan jas koas lengan panjang kebanggaan, nametag dokter muda, pikiran udh merapal lab pasien dan teori ujian, seketika berkaca2, dan netes. Sumpah, gue pengen ngrasain itu. Gue pengen ada disana. Merasakan jd ujung tombak kesehatan. Merasakan susah payahnya pasien hanya utk menjangkau puskesmas terdekat kudu menempuh berkilo2 jauhnya. Merasakan hangatnya senyum pasien gue yg akhirnya diijinkan Allah untuk sembuh. Hal yang tidak mampu tergantikan oleh apapun, bagi seorang dokter.

Sekarang, sudah hampir 2tahun kejadian gue ujian akhir interna sama beliau. Alhamdulillah, nilainya oke sih, hehe. Tp satu hal yg bakalan gue inget dari pengalaman ujian gue kali itu serta hikmah yg bisa diambil. Gue ga akan menyerah, untuk mereka diluar sana, yg bersusah payah cari pelayanan kesehatan, untuk ibu2 yg berjuang melahirkan buah hatinya. Untuk ujung tombak puskesmas yg blusukan ke desa2 nun jauh disana untuk memastikan semua anak dapat vaksinasi. Aku gak akan menyerah.

-dokter internship yang lagi duduk manis di suatu pagi yg selow di bangsal anak, RSUD Kota Madiun-

Life Story

Alhamdulillah, posting pertama setelah sah jadi dr.Andina Savitri Nurdayanti. hihihihi. ahh boleh lah yaaa narsis dikit, ga dosa. hehehe.

Tak henti bersyukur diri ini, bisa berada di posisi ini, didoakan orang banyak. Salah satunya supaya jadi dokter yang bermanfaat bagi semua dan barokah (hihihi.. doanya mama ellisma – salah satu geng nero yang selama sekolah dokter ini maen2 bareng saya, hihi), dan doa semoga bisa meraih mimpi kita masing2, amiinn.. Alhamdulillah saya masih diijinkan Allah bermimpi, difasilitasi orang tua, dan diijinkan berada di jalan mimpi ini.

Teringat kisah saat saya koas ilmu penyakit dalam aka interna dahulu. Kisah seorang pasien yang sangat menyentuh hati saya. Seorang wanita muda berusia 31 tahun yang didiagnosis Lupus Nefritis. Lupus atau Systemic Lupus Eritematous (SLE) adalah penyakit autoimun yang menyerang tubuh seseorang. Gampangnya, sel-sel imun yang seharusnya menjaga tubuh dari serangan bakteri, dan membunuh bakteri yang masuk. Tapi pada pasien dengan SLE, sel-sel imun ini malah menghancurkan organ2 tubuh manusia itu sendiri. Terdapat kekacauan dari sel imun dalam mengidentifikasi sel ini sel tubuh sendiri atau sel antigen asing yang harus dimusnahkan. Well, pada pasien SLE, dapat terjadi komplikasi yang lebih jauh, salah satu contohnya adalah lupus nefritis. Lupus Nefritis yaitu komplikasi yang terjadi di ginjal, menyebabkan fungsi ginjal terganggu bahkan rusak. Ginjal tak dapat menghasilkan urin. Hasil metabolisme yang harusnya dikeluarkan diurin gagal diekskresi. Terjadi kerusakan pada sel2 glomerulus, dst dari ginjal.

Well, itulah yang terjadi pada pasien yang aku tangani di bangsal RS. Kala itu, saya masih dokter muda junior di rotasi IPD. Bertugas selama 2 minggu penuh di bangsal. Follow up setiap pagi pada setiap pasienku, bersama 2 orang senior saya yang sungguh baik dan enak diajak kerjasama.

Setiap pagi, saya berkeliling untuk follow up sekitar 12-15 pasien. Setiap pasien saya tanyai keadaan pagi ini, apa saja keluhan yang dirasakan serta anamnesis lainnya. Tak lupa saya melakukan pemeriksaan fisik untuk saya bandingkan dengan pemeriksaan 1 hari yang lalu sesuai yang tertulis di rekam medis. Ketika sampai di bed pasien wanita muda itu, dia banyak bercerita. Dia sudah tidak asing dan bolak balik ngamar di RS. Sakit lupus ini sudah dia derita 5 tahun-an. Awalnya, dia bercerita, merasa sering cepat lelah. Kemudian apabila terkena sinar matahari, akan muncul bintik2 kemerahan di wajahnya, dan badannya mudah panas tinggi, bahkan hingga 40 derajat celcius. Terakhir, muncul bintik2 kemerahan (ptekiae) di seluruh kaki dan tangannya. Sesak nafas juga sering dirasakan. Pasien ini masuk dalam kategori penting. Setiap kali operan dengan dokter muda jaga selalu menyebutkan keadaan pasien ini. Seringkali tengah malam tiba2 demam tinggi. Sampai saya yang ikut merawatnya, meletakkan termometer di atas meja disebelah ranjangnya untuk mempercepat pendeteksian gejala itu.

Pagi itu, diagnosis lupus nefritis belum tegak, masih SLE suspek komplikasi lupus nefritis dd entahlah saya lupa. Dia sering mendapatkan obat-obatan untuk menguras cairan dalam tubuhnya yang tidak mampu dikeluarkan oleh ginjal. Beberapa hari kemudian, hasil biopsi keluar, dan pasien dinyatakan telah mengalami komplikasi pada ginjalnya.

Pagi berikutnya, dia semakin sesak, dan ini tidak membaik. Pemeriksaan serum elektrolit menunjukkan kadar kalium yang tinggi. Pemberian kalsium glukonas, insulin, dan D40 tidak mampu menurunkan kadar kalium dalam darahnya. Maka pasien diindikasikan untuk dilakukan hemodialisis cito (cuci darah yang dilakukan pada keadaan emergensi). Pasien segera dijadwalkan HD hari itu juga. Sore itu, saya pulang kerumah dengan hati tak keruan. Smoga semuanya baik2 saja dan teman saya yang berjaga malam dapat meng”aman”kan situasi.

Follow up pagi harinya, ternyata keadaannya membaik. Badannya sudah berkurang bengkaknya. Nafasnya sudah tidak sesak lagi. Dia merasa enteng dan enakan setelah HD. Alhamdulillahh.. Follow up pagi itu dia bercerita banyak hal. Tentang suaminya yang sangat sayang dan menunggu dengan sabar disebelahnya walaupun dia sakit. Tentang keinginannya untuk segera pulang karena kangen dengan anak satu2nya yang masih balita. Tentang bagaimana kemarin dia sangat sesak dan sekarang dia membaik. Saya lega. Sayangnya saat itu adalah terakhir saya memfollow up dia. Keesokan harinya, saya harus rolling ke bangsal lain untuk memfollow up pasien lain. Perawatan wanita muda itu saya operkan ke teman sesama dokter muda yang giliran tugas di bangsal itu. Informasi sudah lengkap juga tertulis di rekam medis.

Baru sekitar seminggu saya bertugas di bangsal yang baru, saya berjumpa teman saya yang dulu saya beri operan tugas di bangsal lama. Dia menemukan termometer saya dan mengembalikannya. Bahkan saya lupa kalau termometer itu tak ada di tas peralatan medis saya. Saya lupa terakhir meletakkannya dimana.
Saya: “Kamu nemu termometerku dimana?”
Teman saya : “Di meja sebelah ranjang pasien”
S : “Ohh iya ya, makasih ya. Aku lupa punya termometer. Pasien yang mana sih?”
TS : “Pasien SLE yang komplikasi ke ginjal”
S : “Ohh iyaaa ibu ituu.. Gimana sekarang kabarnya? itu dulu kan pasienku pas tugas di bangsal yang sekarang km tempati”
TS : ” Iya, ibu itu sudah meninggal kemarin malam”
S : “Innalillahi wa inna lillahi rojiun.. kenapa? sesak lagi?”
TS : “Iya, sesak dan bengkak lagi, malem2 juga ga mungkin harus segera HD cito”

Ya Allah.. saya berdoa kepadamu, Sembuhkanlah pasien2ku dengan kehendak Mu. Bila memang tidak tertolong, jadikanlah masa sakitnya ini sebagai penghapus dosa2 di dunia sehingga dia dapat meninggal dengan tenang dan ringan timbangan dosa2nya kelak. Amin

-ditulis pada malam yang tenang dan penuh inspirasi :)-

Cerita Cita-citaKu

doctor holding stethoscope

Alhamdulillahirobbillalamiiinn.. tak henti2 aku berucap syukur karena telah berada di posisi ini. Setelah 6 tahun sekolah jadi dokter! Mulai dari preklinik sampe koas. Jaman preklinik, waktu masih cupu2nya, bergulat ikutan bem di fkub, jadinya sibuk riwa riwi, dan SP (semester pendek-red) pun juga sudah dialami. Berdarah2 ujian bersama dokter2 supervisor yang masuk jajaran “triple kill”. Jaga malem di ugd. Bareng temen2 garap referat, lapsus, dan Morning Report. Jaga di puskesmas yg bikin bolak balik ngrujuk pasien di tengah malem pake ambulan nguing2. Fuhh..

Alhamdulillahh.. posisi ini ga bisa aku dpt sendirian. Ada kerjasama dgn teman2 dibelakangnya. Tmn2 yg membantu, mengingatkan, bahkan memarahi juga punya porsi sendiri2. Ada bimbingan supervisor dokter2 spesialis dan ppds dibelakangnya, selama kita jadi dokter muda di RS pendidikan dan jejaring. Dan ada doa orangtua yang menyertai setiap perjalanan kehidupan kita.

Alhamdulillah. Ini bukan akhir dari segalanya. Masih banyak ilmu yg blm aku ketahui. Dan juga masih panjang jalan yang harus dijalani. Ini adalah awal. Awal karrier, awal untuk mandiri, dan awal untuk berlari dan mendorong diri untuk selalu lebih dan lebih lagi.

Bismillah. Bsok yudisium. Alhamdulillaaahhhh besok yudisium dokteerr ;D